Banyak yang mengatakan bahwa ibu hamil dengan minus yang tinggi tidak dapat melahirkan secara normal. Ia harus melahirkan dengan cara oprasi. Apakah benar demikian?
Saat fase kehamilan, hormon-hormon yang ada dalam tubuh mengalami perubahan, termasuk di bagian mata. Dr. Referano Agustiawan, SpM. mengatakan bahwa gangguan mata yang biasa terjadi pada ibu hamil ada dua jenis, yaitu Ablasio Retina Regmatogen dan Ablasio Retina Eksudatif.
Ablasio retina (lepasnya retina) dapat disebabkan berbagai hal yaitu peradangan hebat, trauma akibat benturan, tumor, komplikasi diabetes, dan preeklampsia. Tetapi sebagian besar terjadi akibat adanya satu atau lebih robekan-robekan yang membentuk lubang-lubang pada retina.
Ada dua faktor yang menyebabkan retina lepas. Pertama karena retina tipis sehingga mudah robek. Kedua, adanya gel cair di dalam bola mata atau vitreous gel (badan kaca). Nah, gel cair mudah merembes dan masuk mengalir ke dalam lubang retina sehingga retina mudah lepas.
Ablasio Retina Eksudatif pada umumnya terjadi pada ibu hamil yang menderita tekanan darah tinggi. “Pada kondisi preeklampsia terjadi penumpukan cairan di bawah lapisan saraf mata yang menyebabkan penglihatan menurun drastis. Biasanya setelah melahirkan cairan tersebut akan hilang dengan sendirinya, dan mata akan menjadi normal kembali, jadi tidak terkait pada mata minus atau tidak,” kata Opthalmologist dari Jakarta Eye Center melalui okezone.com.
Jadi, apa ibu hamil yang memiliki mata minus dapat melahirkan secara normal? Dr. Referano mengatakn bisa. Karena risiko robekan pada retina tidak berhubungan dengan aktivitas mengejan pada saat melahirkan, atau ketika sedang BAB. Robekan retina terjadi akibat benturan yang terjadi di kepala maupun di mata. Namun, baiknya sebelum melahirkan, kondisi retinanya harus diperiksakan terlebih dahulu.






























