Gelar Rapat di Atas Ubin, Camat Pabayuran Dianggap Feodal

feodalPEBAYURAN – Ada-ada saja ulah Camat Pabuyuran, Kabupaten Bekasi, Nabrih Binin Saend. Sebab, sejumlah aparatur desa yang telah memasuki masa Purna Bhakti (sudah habis masa jabatannya), diminta untuk duduk selonjoran di atas ubin aula gedung kecamatan.

‪Sontak saja, undangan itu menuai kecaman. Tak sedikit warga yang menilai, jika apa yang dilakukan oleh aparatur pihak kecamatan sebagai aksi feodalisme.‬

‪Dari informasi yang dihimpun infobekasi.co.id, rapat tersebut dibuat oleh PJS Kepala Desa Sumbersari, Aris Sadikin Asnawi, pada Senin 21 Maret siang. Rapat silaturahmi ini digelar di aula kantor Kecamatan Pebayuran, dan turut dihadiri oleh Camat Pebayuran, Nabrih Binin Saend, serta MP Pol. PP, Ading Jaohaerudin.‬

‪ML, salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya, mengatakan bahwa rapat silaturahmi, yang berlangsung di aula kantor Kecamatan Pebayuran tersebut, membahas nasib kopensasi bagi para pegawai desa yang Purna Bhakti.‬

‪“Sayangnya, para mantan aparatur pemerintahan desa yang datang tidak disediakan bangku. Kalau tidak ada bangku, paling tidak bisa dikasih tikar. Jangan dibiarin duduk di lantai tanpa alas sama sekali, sementara PJS kepala desa dan camat duduk di kursi empuk. Lagi pula itukan kantor pemerintahan, dan mereka diundang secara resmi pakai surat undangan,” sindirnya.‬

‪Lanjut dia, seharusnya camat dan PJS kepala desa tidak melakukan hal itu kepada mantan aparatur pemerintahan desa yang datang. Biarpun sudah memasuki masa pensiun, sepatutnya mereka dihargai karena sudah membantu menjalankan roda pemerintahan dari tahun 2010 hingga 2016.‬

‪“Walaupun mereka sudah tidak menjabat sebagai pegawai desa lagi, paling tidak rasa saling menghormati itu harus ada. Lagipula, usia para tamu undangan yang datang juga ada yang lebih lebih tua dari camat atau Kades,” ucapnya.‬

‪Salah seorang mantan kepala dusun yang hadir, mengaku hanya bisa pasrah dengan kondisi tersebut. Bahkan, ia menuding, apa yang dilakukan oleh camat tersebut, layaknya zaman Jepang.‬

‪”Mau gimana lagi? Saya gak bisa berbuat apa-apa. Mau gak mau duduk aja di lantai dengan tamu undangan lainnya. Kaya zaman feodal dulu,” paparnya.‬

Sementara itu Camat Pebayuran, Nabrih Binin Saend, saat dikonfirmasi lewat telepon, membenarkan hal itu. Ia mengatakan bahwa saat rapat berlangsung, di kantor kecamatan tidak ada kursi. Sebelumnya, ia pun sudah menyampaikan permasalahan ini kepada tamu undangan yang datang dan mereka menyatakan tidak keberatan, alias bersedia untuk duduk di lantai.‬

‪”Wong gak ada yang keberatan waktu rapat,” kata camat, saat dikonfirmasi. (Tio)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini