Tangani PMKS, Dinsos Kota Bekasi Cari Lahan Rumah Singgah

Ilustrasi Rumah SinggahBEKASI SELATAN – Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bekasi masih mencari lahan untuk dijadikan rumah singgah sebagai upaya dalam penanggulangan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), dan penanganan dampak dari eksploitasi anak.

“Untuk rumah singgah memang kita sudah mengajukan, dalam pengertian memang kita sekarang lagi mencari lahan yang bagus secara tempat, posisi, fasos, dan fasumnya. Karena kalau rumah singgah kan tidak bisa terlalu ke dalam lokasinya, harus ada di tengah-tengahlah itu. Kita masih agak susah mencari lahan yang ideal,” ujar Kepala Dinas Sosial, Agus Dharma, kepada infobekasi.co.id saat ditemui di Plaza Pemkot Bekasi, Senin (11/04).

Ia mengatakan, bahwa saat ini Dinsos telah memiliki satu buah lokasi rumah singgah di perumahan Villa 200, Kelurahan Margajaya, Bekasi Selatan. Namun, apabila mendapat anggaran pengadaan, ia berencana akan menambah satu lagi titik lokasi rumah singgah.

“Sekarang ada di villa 200, kita coba pengusulan, kalau dapat anggaran lagi, maka saya memandang sih potensialnya di PSBK. Letaknya di dekat kelurahan bawah jembatan layang (Kelurahan Harapan Mulya). Tapi memang karena lokasinya agak ke dalam, sehingga mobilitas dan aksesibilitasnya kurang bagus. Namun ya bagaimana lagi, ada lahannya disitu,” kata dia.

Agus mengungkapkan, dalam pengadaan rumah singgah memang tidak disebutkan secara signifikan detil persyaratan untuk luas tanahnya. Namun, paling tidak haruslah memiliki dan memenuhi beberapa ruangan yang diperlukan, seperti kamar untuk istirahat, dan aula untuk rehabilitasi.

“Dan di rumah singgah ini tidak untuk ditinggali terlalu lama. Memang idealnya kalau kita punya rumah singgah paling nggak bisa menampung 3-4 bulan, sekalian pelatihan. Tapi karena ini rumah singgah, kita memfasilitasi kedaruratan yang harus kita selesaikan dalam waktu yang tidak terlalu lama,” jelasnya.

Agus mengatakan, bahwa para PMKS, seperti orang terdampar, anak jalan, dan korban eksploitasi anak, merupakan beberapa obyek yang harus ditangani oleh Dinsos melalui program rumah singgah. Namun begitu, Agus mengatakan akan tetap memfokuskan kepada pengembalian ke pihak keluarga.

“Kalau memang itu terbukti, misalnya sekarang orang dibawa ke kami, tentu kita akan fasilitasi itu dalam rumah singgah. Namun, kita akan coba terapi bagaimana kita menghubungkan dengan keluarga itu yang pertama kami pikirkan. Bagaimana anak yang tereksploitasi atau orang yang ditolak keluarga ini bisa kita kembalikan ke keluarganya. Manakala keluarga sudah tidak ditemukan atau tidak bisa menerima dengan berbagai alasan, maka setelah dari rumah singgah, akan kita simpan di panti asuhan. Tapi kalau keluarga ketemu, kita akan semaksimal mungkin kita sampaikan ke keluarga,” jelasnya.

Sementara untuk metode pengajuan rumah singgah, Agus menyatakan akan dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan mengajukan diri, maupun melalui penjangkauan dari pihak Dinsos.

“Ada yang secara faktual dengan diantar masyarakat, dan polisi, atau kita lewat penjangkauan. Misalnya begini, ada informasi bahwa di luar ada yang perlu penanganan, maka kita datang kesana. Kita kan punya mata melalui PSM. Jadi, mereka yang melaporkan kepada kami, perlu nggak ada penjangkauan,” katanya. (Sel)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini