Ada 37 Kasus Kekerasan Anak Kota Bekasi di Awal 2017

BEKASI SELATAN – Sebanyak 37 kasus kekerasan terhadap anak terjadi di Kota Bekasi sepanjang awal tahun 2017 hingga hari ini. Hal ini dikatakan oleh Kepala Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kota Bekasi, Syaroni saat ditemui infobekasi.co.id, Senin (22/5).

Menurutnya, jumlah ini relatif meningkat dari tahun ke tahun, mengingat pada tahun 2015 terjadi 100 kasus, dan 110 kasus sepanjang tahun 2016.

“Secara kuantitatif iya, ini meningkat dari tahun ke tahun. Namun meningkatnya kasus ini bukan karena baru-baru ini terjadi gencar, tapi ini karena keberanian masyarakat untuk mengadu,” ucap Syaroni.

Menurutnya, sebelumnya masyarakat belum berani melakukan pengaduan terkait kekerasan anak karena dirasa menjadi aib keluarga ataupun hal lainnya. Namun saat ini pemikiran tersebut sudah mulai menghilang dari masyarakat.

“Nah ini sebetulnya salah satu keberhasilan Pemkot Bekasi dalam mengupayakan masyarakat terkait perlindungan anak dan perempuan. Sehingga masyarakat berani, karena ada sosialisasi secara masif di masyarakat. Yang jadi persoalan justru adalah bagaimana ketika masyarakat yang sudah berani melapor ini bisa kita tangani dengan cepat,” terang dia.

Lanjut dia, berbagai upaya telah banyak dilakukan oleh KPAID bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam upaya menangani kasus kekerasan terhadap anak ini.

“Minimal kita, orangtua memahami bagaimana perlindungan, cara mengatasi kalau terjadi kekerasan anak, bahkan sampai pendampingan di polres dan sampai di putusan pengadilan. Kota Bekasi ini kan dekat dengan Jakarta dan merupakan sentra yang sudah maju. Heterogensinya tinggi. Anak di kota Bekasi hampir 600 ribu jumlahnya. Masa iya sekian banyak anak itu bisa tidak tersangkut kasus sama sekali?,” Papar dia.

Saat ini juga pemerintah kota dan KPAI tengah bekerjasama dengan lembaga perlindungan anak, psikolog di beberapa universitas baik di Bekasi maupun diluar kota.

“harapannya adalah kalau ada kekerasan anak baik fisik, seksual dan psikologis bisa ditangani dengan baik. Karena ada anak yang jadi korban, ada anak yang jadi pelaku, ada pula saksi. Ini tinggal bagaimana bisa ditangani lebih lanjut. kita kan tidak tau berapa besar tingkat traumatik anak,” pungkasnya. (sel)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini