Mengupas Sejarah Budayakan Candi di Bekasi

Komunitas Histori Bekasi gelar Diskusi mengupas sejarah budayakan Candi di Bekasi, Jumat (26/01) malam.

BEKASI- Mencintai Bekasi. Komunitas Histori Bekasi gelar diskusi publik terbuka untuk umum bertemakan sejarah, Jumat (26/01) malam di Gedung Juang 45 Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Diskusi kali ini mengangkat sejarah tentang Candi Jiwa, Tarumanegara, dan Bekasi.

Endra Kusnawan selaku Ketua Komunitas Historika Bekasi  yang juga penulis buku sejarah Bekasi “Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini” mengungkapkan bahwa, acara kali ini sebagai wadah diskusi publik bagi pelajar, mahasiswa dan umum dalam mengenal serta mempelajari sejarah tentang Bekasi.

“Bekasi dulu ada Kerajaan Tarumanegara,  salah satu peradaban yang besar, yang mempengaruhi Bekasi. Banyak sekali sejarah peninggalan salah satunya adalah Candi Jiwa yang ada di Karawang. Para pakar arkeologi menduga bahwa candi tersebut merupakan yang tertua di Jawa yang dibangun pada masa Kerajaan Tarumanegara (Abad ke-5 sampai ke-6 Masehi),” terang dia.

Endra menuturkan, Komunitas Histori Bekasi terus berusaha optimal, mengolah,  mencari dan belajar untuk Bekasi. Tanpa sejarah, kata dia, Bekasi tidak mungkin terbentuk.

“kita gak mengandalkan bantuan pemerintah, ini murni hati nurani kita yang tergerak untuk menjaga dan melestarikan sejarah Bekasi,” terang dia.

Bekasi, lanjut dia, memang sangat strategis jika dipakai untuk penelitian dan mengeksplore budaya, banyak pula arkeolog dari luar Negeri datang untuk menjelajahi peninggalan di Bekasi. Sebagaimana kita tahu Bekasi adalah bagian dari Jawa Barat yang adat dan budaya nya beragam, antara betawi dan sunda menjadi satu.

“Kalau sekarang diskusi, nanti 4 Februari kita ke Candi Jiwa, semoga sih banyak yang ikut ini kan terbuka untuk umum. Buat berkunjung  ke Candi gak usah jauh jauh ke Jawa, belajar sejarah di mulai dari yang terdekat harusnya bisa,” kata Endra.

Tak hanya mengenalkan sejarah, kegiatan juga di dukung oleh Tokoh sekaligus Sesepuh Bekasi sebagai Narasumber. Penulis, budayawan dan kaum intelektual seperti Asep R Sundapura, Okki Jusuf Judanegara, Daeng Muhammad, Cepi Kusumah hadir pada kesempatan itu. Acara di pandu oleh Romi Oktaviansyah.

Oki, narasumber lainnya mengatakan, alam,  kita dan bencana adalah sebuah rencana yang melahirkan sejarah dikemudian hari. “Kita memang harus belajar dari sejarah,  karena generasi muda harus selalu diketuk hatinya untuk menghargai proses dan sejarah serta budaya,” papar dia.

Sementara, Daeng Muhammad berpendapat, untuk kemajuan bangsa yang baik harus di mulai dari langkah yang baik. Belajar dari masa lalu salah satunya kata dia, harus bisa menghargai peninggalan.

“Tidak hanya menggali infrastuktur saja, namun tidak diperbaiki dan tidak dijaga. Ayo sama sama belajar, berbagi. Apa yang kita mau dan manfaat apa yang bisa kita ambil,” ujar Daeng.

Sekadar di informasikan, meski terbilang cukup muda, setahun berdiri namun komunitas Historika Bekasi selalu mengupayakan selalu menghargai Sejarah dengan melakukan agenda jelajah dan diskusi yang dilakukan rutin tiap dua bulan sekali.

Acara berlangsung sekira 5 jam, sejak pukul 20.00 WIB ini menyeret perhatian tokoh tokoh dan sesepuh Bekasi yang turut hadir dan mendukung kegiatan ini, pasalnya dengan diskusi ini terbentuklah diskusi para tokoh sesepuh dengan kaum muda sebagaimana dulu kemerdekaan Indonesia. (AW)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini