Menelisik Jejak Sejarah Masyarakat Tionghoa di Bekasi

Infobekasi.co.id – Klenteng Hok Lay Kiong masih berdiri tegak di permukiman padat penduduk Jalan Kenari atau yang juga dikenal sebagai Jalan Mayor Oking, Margahayu, Bekasi Timur, Kota Bekasi. Klenteng ini diperkirakan telah berusia 350 tahun.

Lokasi ini hanya berjarak puluhan meter dari pertokoan Pasar Proyek, Jalan Juanda. Klenteng yang dikelola oleh Yayasan Pancaran Tri Dharma ini menjadi saksi sejarah peradaban masyarakat Tionghoa di Kota Bekasi sejak abad ke-17.

Ketua Yayasan Pancaran Tri Dharma, Ronny Hermawan mengatakan, masyarakat etnis Tionghoa masuk ke Bekasi diperkirakan pada abad ke-17. Ketika itu di Batavia (sekarang Jakarta) terdapat misi dagang Eropa melalui VOC, persekutuan dagang asal Belanda.

“Sistem penggajian yang mungkin kurang sejahtera, lalu dalam kondisi banyak tertekan, buruh-buruh Tionghoa memberontak,” kata Ronny ketika berbincang dengan Infobekasi.co.id, Kamis (23/1).

Pemberontak dilawan oleh VOC yang memiliki senjata. Banyak etnis Tionghoa meninggal dunia, sebagian menyelamatkan diri ke pinggiran sebelah barat ke Tangerang lalu ke timur ke Bekasi, Cikarang, hingga Karawang. “Mereka mulai peradaban baru,” kata Ronny.

Salah satu tujuan di Bekasi adalah kawasan Pasar Proyek. Di sini, dulu adalah pusat perdagangan, letaknya di depan Klenteng, sekarang masyarakat setempat menyebutnya Pasar Lama. Lokasi ini menjadi pusat ekonomi terbesar di Bekasi karena letaknya berdampingan dengan Kali Bekasi, sebagai sarana transportasi utama masyarakat dulu. Selain itu, air juga menjadi sumber kehidupan utama.

“Karena harus bertahan hidup, bercocok tanam, bekerja, bertani, sebagian besar berdagang. Akhirnya beranak-pinak di situ. Sampai sekarang generasi ke-4 atau 5,” kata Ronny.

Peradaban masyatakat Tionghoa muncul di sana. Mendirikan sebuah klenteng, sebagai sarana tempat ibadah. Tak ada jejak penanggalan kapan klenteng itu dibangun. Tapi, diperkirakan pada abad ke-17 sampai 18. “Kakek saya masih bocah, klenteng itu sudah ada,” kata Ronny.

Klenteng itu sampai sekarang masih terawat, menjadi pusat kegiatan ketika perayaan Imlek. Penamaan Hok Lay Kiong diambil karena di sana dewa utama adalah Hok Lay Kiong, arcanya di altar utama, didampingi empat dewa pendamping dan tujuh dewa pengawal.

Reporter: Hafiz Aryasatya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini