Pelonggaran PSBB, PA Cikarang Kebanjiran Kasus Perceraian

Infobekasi.co.id – Pengadilan Agama Cikarang, Kabupaten Bekasi, kebanjiran kasus perceraian terutama pasca transisi setelah masa pandemi Covid-19 ini. Berdasarkan catatan di Pengadilan Agama (PA) Cikarang, Kabupaten Bekasi per 15 Juni 2020 sudah mencapai 1285 pendaftar.

“Sempat turun pada masa Covid, yakni Maret, April dan Mei,” ujar Subhan Fauzi, Ketua PA Cikarang. Hal ini karena layanan pendaftaran ditutup menyusul berlakunya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Sesuai tabel yang ada, selama Maret 2020, suami yang menggugat cerai istrinya (cerai talak) sebanyak 61 kasus, sedangkan istri yang menggugat suaminya (cerai gugat) sebanyak 160 kasus. Pada April cerai talak sebanyak 25 kasus dan cerai gugat sebanyak 54 kasus.

Sementara pada Mei dan Juni jumlah kasus meningkat karena layanan pendaftaran sudah dibuka dan setiap hari ada sekitar 20 orang yang mengajukan gugatan, “Baru dibuka awal Juni lalu dan sudah ada ratusan yang daftar,” kata Subhan, sambil mengatakan data terakhir masih disusun.

Selain itu, Abdul Chalim, Ketua LKBH ICMI Bekasi mengatakan kemungkinan di akhir tahun bisa jadi akan mendekati angka 2.000 an, “Bukan tidak mungkin kasus perceraian di Kabupaten Bekasi akan spektakuler mencapai angka 3.000-an,” ujar Abdul Chalim, Rabu (17/6).

Menurut Chalim, ada banyak faktor terkait banyaknya wanita yang mengajukan gugatan cerai, namun yang utama adalah adanya cinta lama bersemi kembali (CLBK). Wanita tidak siap dipoligami dan gaya hidup wanita yang mapan dan mampu hidup tanpa suami, “Itu yang utama, di samping penyebab lain karena adanya media sosial yang memudahkan mereka bergaya,” tandasnya.

Sedangkan masalah lain yang sering dihadapi wanita adalah, soal ekonomi dan tidak ada kesamaan dalam sudut pandang karena latar belakang pendidikan.

“Persoalan yang paling mendominasi adalah ekonomi dan perselingkuhan ditengah jalan, hal ini disebabkan karena perkembangan teknologi melalui medsos,” jelas Chalim, sambil mengatakan faktor yang paling dasar adalah pemahaman agama suami istri yang tidak sempurna.

“Kalau ribut sebentar bentar beda pendapat atau tidak suka minta berpisah. Padahal kalau para suami istri bersyukur dengan keadaan yang ada maka umur perkawinan akan langgeng, sehingga tujuan awal menikah untuk keluarga yang sakinah mawadah warahmah bisa tercapai,” katanya.

Kontributor: Saban

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini