Skip to content

Tetap Tenang, Ini Cara Mengatasi Anak Tantrum yang Tepat

Masalah yang paling sering dijumpai pada anak balita yaitu tantrum. Tidak jarang, orangtua pun merasa kesulitan mencari cara mengatasi anak tantrum. Lalu, apa itu tantrum dan bagaimana untuk menanganinya?

Tantrum merupakan ledakan emosi anak yang biasanya ditandai dengan perubahan perilaku menjadi histeris yang biasanya terjadi pada balita usia 1 sampai 3 tahun. Kondisi tersebut disertai dengan tindakan berteriak, memukul, menangis, keras kepala, berguling-guling, atau marah sehingga sulit untuk ditenangkan.

Anak yang tantrum sebetulnya sedang memberi respons terhadap kondisi yang dihadapinya, sekaligus berusaha memahami perasaan yang muncul, terutama rasa kesal. Anda tidak perlu khawatir karena tantrum termasuk bagian dari perkembangan anak yang normal. Anda dapat chat dengan dokter anak untuk mendapatkan informasi lebih detail mengenai tahapan tumbuh kembang anak.

Bagi Anda yang masih kesulitan menghadapi anak tantrum, simak rangkumannya berikut ini.

Cara Mengatasi Anak Tantrum

Umumnya, tantrum disebabkan oleh rasa frustasi, kesal, dan marah akibat dari kondisi atau situasi tertentu yang dialami anak. Misalnya, anak yang sedang lapar dan lelah cenderung menjadi lebih sensitif yang dapat memicu munculnya tindakan agresif tersebut.

Kemampuan anak yang masih sulit dalam mengungkapkan apa yang diinginkan dan dibutuhkan pun turut menjadi penyebab emosinya masih belum stabil. Lambat laun, dengan bimbingan yang baik dari orangtua, anak pun akan lebih mampu mengendalikan emosinya sebagai salah satu tahapan perkembangan sosial dan emosional anak usia dini.

Tantrum dapat terjadi kapan saja dan di mana saja, sekalipun saat anak sedang makan atau berjalan-jalan di tempat umum. Cara penanganannya pun perlu dipahami agar tidak membuat kondisi anak semakin buruk. Nah, berikut beberapa cara mengatasi anak tantrum dengan tepat.

  • Tetap tenang

Orangtua sebaiknya tidak ikut cemas atau panik saat si kecil mulai menunjukkan tantrumnya. Sebab sikap orangtua juga turut mempengaruhi anak dan akan membuat sulit berpikir dengan jernih untuk menghadapi perilaku anak.

Tetap tenang dan tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan perlahan. Kemudian pikirkan langkah-langkah apa yang dapat dilakukan sambil memantau kondisi anak.

 

  • Kendalikan emosi anak

Keluhan tantrum pada anak seperti menangis, menjerit, dan memukul justru akan semakin parah apabila emosinya dibiarkan meledak-ledak. Hal tersebut membuat situasi dan cara mengatasi anak tantrum semakin sulit.

Oleh karena itu, mulailah dengan upaya untuk mengendalikan emosi anak dengan sikap yang tenang. Jangan sampai orangtua terbawa emosi, ya. Sebab hal tersebut malah akan membuat perilaku agresif anak semakin menjadi-jadi.

Meski mungkin membutuhkan waktu lama agar emosi anak mereda, namun tetap ajak anak mengobrol dengan lembut. Lalu, meninggalkan anak sendirian saat tantrumnya sedang muncul justru akan membuat emosi anak kian meledak. Jika cara tersebut terlalu sering dilakukan, rasa diabaikan pun akan meliputi diri anak yang lambat laun dapat memicu rasa rendah diri.

 

  • Perhatikan keamanan anak

Penting untuk menjauhkan benda-benda tajam dan berbahaya seperti gunting, kaca, dan sumber listrik dari sekitar anak saat ia sedang menunjukkan perilaku agresifnya. Hal tersebut untuk menghindari cedera pada anak. Sebab anak yang tantrum cenderung menjadi kurang mawas diri terhadap lingkungan di sekitarnya.

 

  • Alihkan perhatian anak

Cobalah untuk mengalihkan perhatian anak pada hal lain sembari menenangkan emosi si kecil. Orangtua dapat memberi anak gambar, makanan kesukaan, musik, atau mengajak bermain mainan yang disukai.

Pengalihan perhatian ini bertujuan untuk membuat anak lupa terhadap apa yang menjadi pemicu tantrumnya.

 

  • Atasi dengan sentuhan kasih sayang

Penting untuk membantu menenangkan perasaan anak yang sedang tantrum. Orangtua dapat mendekatinya secara perlahan, menatapnya dengan lembut, serta membelai rambutnya untuk memberi sentuhan kasih sayang.

Selain itu, pelukan erat yang tegas pun akan membuat anak merasa aman dan menyadarkan si kecil bahawa orangtuanya ada dan peduli. Sembari mendekapnya, tepuklah punggungnya pelan-pelan dan hindari mengatakan apa pun selama memeluk anak yang sedang tantrum.

 

  • Beri anak penjelasan

Setelah emosi anak lebih reda, ajak ia untuk berbicara baik-baik. Beri penjelasan padanya menggunakan bahasa yang baik dan lembut seperti misal menanyakan apa yang membuatnya menangis atau kesal.

Sering kali anak histeris karena menginginkan sesuatu yang tidak cocok untuk seusianya. Saat itu, orangtua mesti menjelaskan dengan baik mengapa ia tidak boleh memilikinya dan beritahu jika ada sesuatu lain yang lebih baik daripada apa yang diinginkan si kecil. Tawarkan sesuatu, baik itu benda atau kegiatan untuk menggantikannya.

 

  • Jangan turuti semua kemauan anak

Perilaku anak tantrum memang tidak jarang membuat frustasi dan lelah. Akan menjadi masalah apabila orangtua terlalu cepat atau sering menyerah untuk menuruti semua kemauan anak agar perilaku tantrumnya berhenti.

Sebab, membiasakan diri menerapkan cara penanganan tersebut justru membuat si kecil akan menggunakan tantrumnya sebagai senjata untuk mendapatkan apa yang diinginkannya di kesempatan lain. Bukannya kondisi akan membaik, anak malah dapat menjadi lebih sering dan mudah tantrum kedepannya.

 

Tanda Tantrum yang Melebihi Batas

Meskipun tantrum merupakan kondisi yang normal terjadi pada anak, namun orangtua perlu tahu tanda-tanda tantrum anak yang sudah melebihi batas, di antaranya:

  • Frekuensi mengamuk atau histeris menjadi lebih sering
  • Durasi anak mengamuk berlangsung dalam waktu yang lama
  • Saat mengamuk, anak sambil melakukan kontak fisik dengan orang lain
  • Meluapkan emosi sampai melukai diri sendiri

Saat anak menunjukkan tanda-tanda di atas, Anda dapat berkonsultasi pada dokter lebih lanjut. Dikhawatirkan dapat menjadi risiko gangguan emosional pada anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *