Mengenal “Demam Keong“ Schistosomiasis 

Penulis:
Drg. Sekar Ayu Runggandini, MARS.
(Universitas Singaperbangsa karawang)

Kasus demam keong di Sulawesi tengah meningkat. Afuad Saehana Kepala Seksi Pencegahan dan Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah menjelaskan kasus ini meningkat karena saat pandemi covid intervensi pada keong berkurang. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, Dokter Jumriani Junus menyampaikan obat penyakit ini belum diproduksi di Indonesia. Pemesanannya harus melalui Kementerian Kesehatan RI, hal ini yang membuat terhambatnya penanganan dan mengakibatkan meningkatnya kasus demam keong di Sulawesi Tengah khususnya di Kabupaten Sigi dan Kabupaten Poso.

 

Apa itu  demam keong ?

Demam keong atau dalam dunia kesehatan disebut Schistosomiasis merupakan penyakit parasit cacing (trematoda) dari genus Schistosoma. Kebanyakan schistosomiasis manusia disebabkan oleh Schistosomiasis haematobium, Schistosoma mansoni, dan Schistosoma japonicum.

Parasit ini tersebar luas di benua Afrika, Timur Tengah, Amerika Selatan, dan Asia Tenggara. Sulawesi Tengah merupakan satu satunya provinsi dari 38 provinsi di Indonesia yang endemis schistosomiasis.

 Bersifat zoonosis penyakit ini dapat ditularkan dari hewan ke manusia ataupun sebaliknya. Penularan ini terjadi karena aktivitas masyarakat yang bekerja sebagai petani maupun peternak yang berkegiatan di habitat keong yang menjadi salah satu hewan perantara parasit ini.

 

Bagaimana penularan dapat terjadi?

Siklus penularan penyakit ini berawal dari telur cacing S. Japonicum yang keluar bersama feses penderita, di dalam air telur menetas dan bermigrasi ke dalam tubuh keong berupa mirasidium, kemudian mengalami perkembangan menjadi serkaria atau larva cacing infektif.

Larva cacing kemudian keluar dari keong di perairan dan dapat menembus kulit manusia ataupun hewan mamalia yang sedang berada di lingkungan yang mengandung  larva cacing. Barulah di dalam tubuh manusia larva cacing ini berkembang dewasa di dalam pembuluh darah pada jaringan hati. Pada saat bertelur, cacing akan menuju pembuluh darah usus dan pada akhirnya, telur keluar bersama feses, sementara cacing dewasa tetap berada di pembuluh darah usus. Faktor resiko yang  diabaikan, seperti tidak menggunakan sepatu boot sebagai alat pelindung kaki, membuat penyakit ini dapat menyebar dengan cepat .

Bagaiaman Gejalanya ?

Gejala yang ditimbulkan dari penyakit ini tergantung dari jenis  stadium yang sedang dialami penderita cacing Schistosoma japonicum yaitu cercaria, cacing dewasa dan telur. Pada saat cercaria menembus kulit terjadi perubahan pada kulit berupa bercak kemerahan pada kulit akibat pelebaran pembuluh darah (eritema) dan bercak merah menonjol dibanding daerah kulit lainya (papula). Perubahan tersebut disertai rasa gatal dan panas. Bila cercaria yang masuk ke dalam kulit dengan jumlah yang banyak, maka akan terjadi  peradangan pada kulit yang menimbulkan gejala mengganggu, seperti ruam kemerahan serta kulit yang terasa gatal, kering, dan bersisik (dermatitis) . Gejala paru timbul ketika parasit mencapai paru yaitu dengan timbulnya batuk dan terkadang disertai dahak. Pada beberapa kasus, terkadang batuk bercampur dengan darah dan dapat menjadi berat sehingga timbul serangan asma.

Manifestasi yang berdampak buruk mulai timbul antara minggu ke-2 sampai minggu ke-6 setelah terjadi infeksi. Pada stadium ini timbul gejala seperti lemah, rasa lelah, tidak enak badan, dan tidak nyaman (malaise), tidak nafsu makan, mual, muntah, sakit kepala, nyeri tubuh dan diare. Beratnya gejala tergantung dari banyak atau sedikitnya cercaria yang masuk. Pada infeksi yang cukup berat dapat timbul demam tinggi. Sedangkan stadium akut dimulai sejak cacing betina bertelur. Gejala berat yang timbul adalah hepatomegali dan splenomegali yang timbul antara 6 sampai dengan 8 bulan setelah cercaria masuk.

Stadium menahun terjadi pada stadium lanjut. Pada stadium ini terjadi penyembuhan jaringan dengan pembentukan jaringan ikat atau fibrosis yang kaku. Hati yang semula membesar karena peradangan, kemudian mengalami pengecilan karena terjadi fibrosis, hal ini disebut sirosis. Pada schistosomiasis, Gejala yang timbul berupa pembesaran limpa  (splenomegali), (edema) pembengkakan pada tungkai bawah, bisa pula pada alat kelamin. Dapat ditentukan penumpukan cairan di dalam rongga antara selaput yang melapisi dinding perut (peritoneum), organ dalam perut (asites), pewarnaan kuning yang tampak pada sklera, dan kulit (ikterus). Pada stadium lanjut sekali dapat terjadi pendarahan internal (hematemesis) yang disebabkan karena pecahnya varises pada kerongkongan (esofagus).

 

 

Referensi
Astuti WR, Anastasia H, Ratianingsih R, Puspitaa JW, Samarang S. Deteksi Penyakit Schistosomiasis Melalui Identifikasi Telur Cacing Pada Feses Manusia Menggunakan Probabilistic Neural Network (PNN). J Vektor Penyakit. 2020;14(1):49–56.

Epidemiologi Schistosomiasis

https://www.kompas.tv/article/373911/penyakit-demam-keong-di-sulteng-meningkat

https://parasito.fkkmk.ugm.ac.id/schistosomiasis/

https://palu.tribunnews.com/2023/02/13/dinkes-sulteng-ungkap-penyebab-meningkatnya-kasusdemam-keong-di-dataran-tinggi-sigi-poso.

https://www.wajibbaca.com/2018/01/kenali-penyakit-demam-keong-yang.html

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Skistosomiasis

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini