Infobekasi.co.id – Di Muara Gembong, Bekasi, suara mesin kapal bukan hanya bunyi harian, tapi tanda bahwa waktunya untuk sekolah telah tiba. Bagi ratusan anak-anak di daerah pesisir ini, kapal bukanlah pilihan transportasi, melainkan satu-satunya jalan untuk mengejar mimpi di tengah tantangan abrasi yang merusak kampung mereka.
Infrastruktur darat di banyak bagian Muara Gembong masih rusak parah. Jalan berlubang, jembatan tidak layak pakai. Hal itu membuat transportasi air menjadi alternatif yang lebih mudah dan cepat sampai ke tujuan. Tak heran, kapal menjadi “truk sekolah” massal yang membawa anak-anak berangkat dan pulang sekolah setiap hari.
Seperti di Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muara Gembong, salah satu pesisir Bekasi paling rawan abrasi. Banyak kampung di sana sudah hilang, ditelan lautan.
Setiap pagi Subuh, kapal jemputan mulai menyebrang perairan untuk menghampiri anak-anak yang akan berangkat ke SDN Pantai Bahagia 2, yang terletak di bantaran Kali Citarum.
“Anak-anak itu berasal dari Kampung Muara Bendera, ada yang menunggu di dermaga, ada juga yang menunggu di depan rumah-rumah mereka yang halamannya sudah menjadi muara,” ucap Ketua Pokdarwis, Desa Pantai Bahagia, Sonhaji, Kamis (11/12/25).
Kapal yang mereka gunakan memiliki kapasitas 60 penumpang, yang seringkali penuh sesak dengan anak-anak membawa tas sekolah.
Di tengah ancaman abrasi yang terus meluas, sekolah menjadi cahaya harapan bagi anak-anak dan warga. Mereka berharap dengan bersekolah, nanti bisa mendapatkan pekerjaan yang baik dan membangun kampung mereka menjadi lebih baik lagi, bahkan mungkin menemukan cara untuk melindungi daerah pesisir dari abrasi.
(AT)
#infobekasi #bekasi








































