Kembang Tujuh Rupa dan Air Mawar, Budaya Nyekar Jelang Puasa Ramadan

Infobekasi.co.id – Menjelang datangnya bulan puasa Ramadan, suasana tempat pemakaman umum di wilayah Bekasi berubah menjadi ramai dari hari-hari biasa. Sejak pagi hingga sore, warga silih berganti datang membawa kantong berisi bunga warna-warni (kbang tujuh rupa) dan botol air mawar. Mereka datang untuk satu tujuan, yakni nyekar, atau ziarah kubur kepada keluarga yang telah wafat.

Tradisi ini sudah menjadi kebiasaan turun-temurun sejak lama di kalangan masyarakat Indonesia, termasuk warga Bekasi. Bagi banyak keluarga, nyekar menjelang Ramadan bukan sekadar ritual, tetapi momen batin untuk mendoakan orang tua, kakek-nenek, uyut atau kerabat yang telah meninggal.

“Biasanya sebelum puasa kita sekeluarga ke makam bapak, kakek nenek. Bersihin rumput, siram air, terus tabur bunga. Rasanya hati lebih tenang mau masuk bulan puasa,” tutur Umar (54) seorang warga Bekasi Utara saat nyekar makam keluarga, kepada infobekaso, Minggu (15/2).

Salah satu ciri khas nyekar adalah penggunaan kembang tujuh rupa. Campuran bunga mawar, melati, kenanga, kantil, dan bunga lainnya mudah ditemui di pedagang musiman di pusara makam. Aroma harum bunga dipercaya melambangkan doa yang baik untuk almarhum.

Dalam tradisi masyarakat Jawa dan Betawi yang juga memengaruhi budaya Bekasi, angka tujuh sering dimaknai sebagai simbol kesempurnaan doa. Meski demikian, para tokoh agama kerap menjelaskan, yang terpenting dari ziarah adalah doa, bukan jenis bunga yang dibawa.

Selain bunga, air mawar menjadi pelengkap yang selalu ada. Air tersebut disiramkan ke atas makam setelah dibersihkan. Wangi yang muncul menghadirkan kesan sejuk dan khidmat.

Secara budaya, air mawar melambangkan kesucian dan penghormatan. Sementara dari sisi keagamaan, penggunaannya tidak wajib, namun diperbolehkan selama tidak diyakini memiliki kekuatan tertentu. Inti utama ziarah tetap pada doa bagi yang meninggal dan pengingat bagi yang hidup.

Tradisi nyekar juga menjadi ajang berkumpul bagi keluarga besar. Anak-anak diajak ikut agar mengenal leluhur mereka, sementara orang dewasa memanfaatkan momen itu untuk mempererat silaturahmi.

Tak jarang suasana haru muncul ketika doa dipanjatkan bersama. Ada yang menitikkan air mata, ada pula yang larut dalam kenangan masa kecil bersama orang tua yang telah tiada.

Di tengah kehidupan kota yang semakin modern, kebiasaan nyekar tetap bertahan kuat di Bekasi. Bahkan, menjelang Ramadan, penjual bunga musiman bermunculan di pinggir jalan dekat pemakaman. Harga kembang tujuh rupa pun ikut naik karena tingginya permintaan.

Bagi warga, nyekar bukan hanya soal tradisi lama, tetapi juga cara menjaga hubungan batin dengan keluarga yang telah meninggal. Taburan bunga, siraman air mawar, dan doa yang dipanjatkan menjadi simbol cinta yang tidak terputus oleh kematian.

Pada akhirnya, nyekar menjelang Ramadan menghadirkan satu pesan sederhana: sebelum memasuki bulan penuh ampunan, manusia diingatkan untuk mendoakan yang telah pergi sekaligus memperbaiki diri yang masih hidup.

#Nyekar #Infobekasi #Bekasi #ZiarahKubur

Editor : DR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini