BEKASI TIMUR – Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang didiikuti oleh tujuh belas Sekolah Menengah Atas (SMA), dan sederajad, memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan ujian di ditahun-tahun sebelumnya. Bukan hanya media yang digunakan, namun juga hingga sistem pengawasannya.
“Pengawas atau penjaga, mulai tahun ini sudah tidak boleh mengawasi siswa sampai tepat di belakangnya, pengawas atau penjaga hanya boleh duduk di kursi yang sudah disediakan, agar tidak membuat siswa tegang dan kehilangan konsentrasi,” papar Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Rudi Sabarudin, Senin (04/04).
Selain itu, kata dia, aparat kepolisian yang biasanya ditahun sebelumnya ikut dilibatkan dalam pengawasa ujian, tahun ini juga tak diperbolehkan untuk mengawasi setiap sekolah yang menjalani proses UNBK. Hal ini dilakukan agar tidak menganggu ketenangan para siswa.
“Mulai tahun ini juga petugas kepolisian tidak boleh mengawasi sekolah, kecuali hanya untuk menjaga naskah soal yang sudah distribusikan sebagai titik bongkar,” ucap Rudi.
Menurutnya, untuk urusan infrastruktur dan sebagainya telah disiapkan secara baik oleh Dinas Pendidikan (Disdik). Bahkan, sebagai antisipasi, Disdik juga telah melakukan kerja sama dengan pihak PLN supaya jangan sampai mati listrik.
“Kita sudah siapkan semuanya. Komputer penunjang, hingga antisipasi listrik mati. Seperti di beberapa sekolah juga ada genset supaya kalau sampai terjadi mati listrik, bisa dihidupkan kembali,” jelasnya.
Lanjut dia juga, pihaknya telah menyiapkan soal yang berbeda disetiap komputer. Hal itu dikarenakan salah satu indikator pelaksanaan UNBK adalah kejujuran.
“Kejujuran itu akan lebih diwujudkan sehingga yang namanya IIS (Indek Interegritas Sekolah) dengan cara yang kooperatif, antara siswa yang duduk bersebelahan, dengan soal yang berbeda,” ungkapnya. (Sel)






























