Pelaksaan Literasi di Sekolah Alami Kendala

BEKASI TIMUR – Program pemerintah untuk memupuk kecintaan siswa terhadap minat baca, masih mengalami kendala di lapangan.

Saat dikonfirmasi infobekasi.co.id, M. Iqbal, salah seorang perintis literasi di SMP Negeri 18 Bekasi, mengakui bahwa pelaksanaan literasi di sekolahnya sebenarnya sudah berjalan dengan cukup baik.

Hal ini dibuktikan dengan banyaknya minat siswa yang melakukan review setelah mereka membaca buku yang sudah ditentukan dan sesuai dengan tingkatan usianya.

“Secara umum literasi di SMP Negeri 18 Bekasi sudah berjalan dengan cukup baik,” terangnya.

Hanya saja, saat ini program literasi melalui West Java Leader’s Reading Challenge (WJLRC) yang bergulir dan merupakan program tantangan membaca bagi siswa dari pemerintahan Provinsi di Jawa Barat, masih ditemui kendala di lapangan.

“WJLRC yang bergulir masih kami temui adanya sejumlah kendala, seperti kesulitan mengupload video kegiatan literasi, durasi video yang diunggah, hingga password pengganti untuk mengupload video yang belum didapatkan,” akunya kepada infobekasi.co.id.

Dijelaskannya pula, selain itu, pihaknya sebenarnya sudah mengkonfirmasikan permasalahan hilangnya password untuk mengupload kegiatan literasi di sekolahnya ke pihak terkait.

“Hingga saat ini password penggantinya belum diberikan dan pihak sekolah mengalami kesulitan untuk melaporkan kegiatan literasinya melalui online,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SD Swasta Ananda Bekasi, Bayu Artadri, berharap agar semua pihak yang terlibat dalam kegiatan literasi sekolah, bisa terus mempertahankan program yang dinilainya mampu menambah wawasan para siswanya tersebut.

Ia bahkan mengakui, saat ini gaung kegiatan literasinya memang sedikit mulai menurun. Untuk itu, ia berharap agar pihak sekolah bisa terus mempertahankan semangat membaca bagi anak didiknya di sekolah.

Bayu juga menekankan, melalui literasi di sekolah, hal ini sebenarnya bisa mendorong tumbuh kembangnya kemampuan siswa dan segenap jajaran di sekolahnya untuk membaca, berbicara, mendengar maupun menulis.

“Kami berharap agar pihak sekolah bisa terus mempertahankan ritme kegiatan literasinya, minimal para tenaga pendidik maupun kependidikan bisa menjadikan dirinya sebagai contoh nyata di dalam kegiatan literasi tersebut agar bisa terus meningkat,” pungkasnya. (Apl)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini