Skip to content

Budaya Bersih dan Sehat untuk Cegah Timbulnya Penyakit

Infobekasi.co.id – Sebanyak 18 warga yang tinggal di Perumahan Mustika Grande Kelurahan Burangkeng Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi terkena penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).

“Karena wilayah sini penduduk sangat padat sekali dan juga saluran air yang menjadi salah satu penyebab tumbuhnya jentik-jentik nyamuk,” ungkap Wakil Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Ismuri, Senin (13/7).

Ismuri mengatakan, paling banyak yang terserang DBD adalah anak-anak. Dia mengaku sangat terbantu dengan di lakukannya Fogging, sehingga dapat menekan timbulnya penyakit DBD.

Sementara itu, Ristanto Area Activition Kalbe Consumer Health Divition melalui Produk Entrostop dan Handy Clean menjelaskan bahwa fogging serta kerja bakti warga untuk mengedukasi warga terhadap budaya bersih dan sehat.

“Hadirnya produk kami Entrostop sebagai obat diare dengan sistem serap, keluarkan dan hentikan serta Handy Clean sebagai handsanitizer 70 % alkohol serta double moisturizer dengan aroma lavender sebagai bagian dari budaya bersih dan sehat,” katanya.

Selain melakukan Fogging di wilayah tersebut, dirinya juga melakukan lomba kebersihan lingkungan serta lomba penjualan Hand Clean antar RT.

“Tim menyasar bagian dalam dan luar rumah agar sarang dan jentik nyamuk benar-benar mati,” ucap Ristanto.

Dengan dilakukannya penyemprotan ini, diharapkan masyarakat bisa terhindar dari penyakit DBD di tangah Pandemi covid-19.

“Ya kita bantu warga agar lingkungannya terbebas dari nyamuk aedes aegypti,” Imbuhnya.

Dirinya mengingatkan masyarakat agar lakukan pencegahan seperti Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

“Masyarakat bisa mandiri memberantas sarang nyamuk mulai dari melakukan menguras atau membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air. Seperti bak mandi, kaleng bekas, ember air, dan lainnya,” terangnya.

“Kemudian menutup rapat tempat penampungan air, dan memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk,” imbuhnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi dr. Sri Enny Mainarti mengatakan bahwa kasus DBD mengalami penurunan pada tahun ini dibandingkan tahun 2019 lalu.

Tercatat sepanjang Januari hingga Februari 2020 hanya terdapat 51 orang warga Kabupaten Bekasi terserang DBD.

“Penurunan cukup tinggi ya, tahun 2019 itu sepanjang Januari hingga Februari ada 237 kasus, 2020 ada 51,” ujarnya.

Adapun rinciannya, kasus DBD tahun 2019 pada Januari ada 85 dan Februari 152 kasus. Sedangkan tahun 2020, pada Januari ada 30 kasus dan Februari 21 kasus. (fiz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *