Ketahui Fakta Pengembangan Vaksin Covid-19 di Indonesia

Infobekasi.co.id – Kini, perkembangan Vaksin di berbagai belahan dunia hampir menemui titik terang telah ada berbagai macam jenis vaksin diteliti dan diuji. Hingga kini Sebelas calon vaksin telah mencapai tahap akhir uji klinis dan lima calon vaksin telah digunakan secara terbatas meskipun penelitiannya belum tuntas. Namun, belum ada kepastian kapan vaksin Covid 19 dapat tersedia dan didistribusikan merata di seluruh negara. Vaksin menjadi harapan pencegahan penularan Covid-19 .

Awal pengembangan vaksin dimulai sejak Februari 2020. Kini sebelas dari 44 vaksin yang sudah mencapai tahapan uji klinis berhasil mencapai fase ketiga .Vaksin tersebut merupakan hasil riset dari Moderna dan National Institutes of Health, BioNTech-Pfizer-Fosun Pharma, CanSino Biologics-Academy of Military Medical Sciences, The Gamaleya Research Institute, Beth Israel Deaconess Medical Center, AstraZeneca-the University of Oxford, Novavax, Sinovac Biotech, The Wuhan Institute of Biological Products-Sinopharm, Beijing Institute of Biological Products-Sinopharm, dan The Murdoch Children’s Research Institute.

Tahapan Uji Klinis Vaksin

Dalam waktu kurang lebih satu tahun itu, vaksin-vaksin yang dikembangkan harus melewati sejumlah tahapan. Tahapan pertama ialah uji pra klinis, yaitu menguji vaksin pada sel lalu menyuntikkannya ke hewan, seperti tikus atau monyet. Jika respons imunitas teruji pada hewan,  tahapan pengembangan berlanjut ke tahap uji klinis, yang terdiri atas tiga fase. Fase pertama disebut percobaan keamanan. Pada fase ini, vaksin diberikan kepada sekelompok kecil orang untuk menguji keamanan dan dosisnya dalam membangun sistem imun.

Jika lolos, vaksin diujikan kepada ratusan orang yang terbagi dalam kelompok-kelompok, misalnya kelompok anak-anak dan lansia. Tujuannya adalah untuk melihat apakah vaksin direspons berbeda sesuai usia mereka. Kemudian, vaksin yang layak akan diujikan kembali kepada ribuan orang. Pada fase tiga ini, peneliti membandingkan jumlah orang yang divaksin yang terinfeksi dengan sukarelawan yang menerima plasebo (obat kosong).

Fase ini menentukan hasil uji apakah vaksin benar-benar dapat melindungi orang dari Covid-19. Selain itu, melalui proses ini, efek samping dari vaksin dapat diketahui. Setelah uji vaksin selesai, saatnya vaksin diresmikan penggunaannya oleh institusi dunia atau negara. Proses ini termasuk membuat surat izin edar dan lisensinya.

Indonesia juga turut berpacu mengembangkan vaksin dari dalam negeri dan dari kerja sama dengan negara lain. Pengembangan vaksin dalam negeri dilakukan melalui pengembangan Vaksin Merah Putih oleh Kementerian Riset dan Teknologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional, serta Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Adapun sejumlah vaksin yang dikembangkan dari hasil kerja sama ialah Sinovac (Bio Farma-Sinovac China), Sinopharm (Kimia Farma-G42 Uni Emirat Arab), dan Genexine-GX-19 (Kalbe Farma-Genexine Korea Selatan).

Tahapan Pengembangan

Selain karena situasi yang sudah semakin parah, negara-negara tersebut berlomba untuk menjadi negara yang pertama kali menemukan vaksin Covid-19 yang teruji. Jika rata-rata lama riset dan pengembangan vaksin memakan waktu hingga 10-13 tahun, vaksin untuk Covid-19 ini diperkirakan dapat diproduksi dan didistribusikan pada 2021. Artinya dalam waktu sekitar satu tahun vaksin sudah dapat digunakan.

Percepatan Pengembangan

Maka, untuk mempercepat penemuan vaksin, produsen vaksin mempercepat waktu dari setiap tahapan pengembangan vaksin. Upaya ini dilakukan pada setiap tahapan mulai dari persiapan hingga produksi dan regulasi di akhir tahapan.

Pada awal pengembangan, peneliti dapat menggunakan penelitian tentang keluarga korona pada epidemi sebelumnya, yaitu MERS dan SARS. Pengembangan vaksin melalui penelitian yang sudah ada dapat memangkas waktu persiapan sebelum uji klinis. Cara ini dapat memangkas waktu dua tahun.

Selain itu, peneliti dapat juga menggunakan pengetahuan tentang virus korona yang sudah ada dan sedang dalam proses penelitian. Cara ini dilakukan tanpa menunggu penelitian akademis secara khusus. Dengan demikian, waktu pengembangan dapat berkurang satu tahun.

Faktor lain yang dapat membantu percepatan waktu pengembangan vaksin adalah memanfaatkan teknologi. Salah satu yang diandalkan adalah vaksin berbasis mRNA. Dengan teknologi ini, waktu pengembangan dipercepat satu hingga dua tahun.

Demikianlah tahap pengembangan vaksin Covid-19. Informasi mengenai perkembangan vaksin CoVID -19 bisa anda dapatkan di  aplikasi kesehatan. Halodoc memenuhi berbagai kebutuhan Anda mengenai informasi kesehatan. Mulai dari informasi rapid tes, tes swab dan konsultasi dokter bisa didapatkan disini. Dengan Halodoc, Anda tidak perlu keluar rumah untuk mendapatkan konsultasi kesehatan yang akurat. (fiz)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini