Petani Kabupaten Bekasi Diminta Tanam Kedelai Siasati Kenaikan Harga Kedelai Impor

Infobekasi.co.id – Persoalan naiknya harga kedelai impor masih dirasakan pengrajin tahu dan tempe di Kabupaten Bekasi. Sementara hasil panen kedelai lokal belum bisa memenuhi kebutuhan para pengrajin tahu dan tempe.

“Sekarang ada petani yang tanam kedelai di lahan seluas 200 hektare. Tapi belum menjadi produk unggulan, mereka baru untuk konsumsi ringan atau pakan ternak saja. Belum untuk kebutuhan industri,” kata Penjabat Bupati Bekasi Dani Ramdan, Kamis (6/10).

Selain produksinya yang masih terbatas, kedelai lokal juga kualitasnya tidak terlalu bagus. Sehingga petani enggan menanam kedelai dan pengrajin tahu tempe juga lebih memilih kedelai impor.

“Kalau untuk tahu dan tempe ini butuh kontinuitas, sementara petani lokal panennya fluktuatif dan tidak bisa diprediksi berapa tonnya. Kedua, kualitasnya masih jauh di bawah kedelai impor dari Amerika. Ini yang membuat mereka cenderung pakai kedelai impor,” ucap Dani.

Harga kedelai impor dari Amerika saat ini harganya Rp13 ribu per kilogram. Kenaikan harganya disebabkan karena pengaruh inflasi serta penghapusan subsidi bahan bakar minyak (BBM).

“Kedelai impor sejak bulan Mei memang sudah naik merangkak, tapi puncaknya di bulan ini karena penghapusan subsidi BBM, mengakibatkan biaya produksinya juga naik, para pengrajin tahu tempe terkena dampak,” katanya.

Meski demikian, pihaknya melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Dinas Pertanian mendorong para petani untuk meningkatkan hasil produksi kedelai lokal guna menyiasati kenaikkan harga kedelai impor.

“Sebenarnya ini peluang bagi petani lokal untuk mendongkrak kualitasnya. Saya sudah instruksikan kolaborasi, membuat kontrak beli disesuaikan dengan kebutuhan industri tempe di sini. Dengan adanya itu, mudah-mudahan petani kedelai lebih serius nanamnya, nanti standar kualitas kami yang tentukan,” ungkapnya.(kendra)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini