Nama Ujung Aspal Pondok Gede, Mengenang Masa Jalan Beraspal Habis di Sengon Jatirahayu

Infobekasi.co.id – Nama Ujung Aspal Pondok Gede tidak hanya akrab di kalangan warga Bekasi dan sekitarnya, tetapi juga terkenal di masyarakat luas setelah dinyanyikan Iwan Fals dalam karya musiknya. Di balik popularitasnya yang tetap abadi, tersimpan sejarah yang berhubungan dengan kawasan Sengon di Kelurahan Jatirahayu, meskipun kini keduanya berada di wilayah administratif yang berbeda.

Sumber beberapa warga setempat, pada tahun 1970-an, ketika pembangunan infrastruktur di wilayah Bekasi masih berkembang, jalan beraspal dari arah Pondok Gede hanya berhenti di satu titik terletak di wilayah Sengon, Jatirahayu. Titik tersebut ditandai oleh keberadaan pohon beringin besar yang menjadi penanda visual jelas dan menjadi batas akhir jalan beraspal saat itu.

“Dulu jalan aspalnya cuma sampai situ, mentok di bawah pohon beringin besar. Makanya orang-orang otomatis nyebutnya ujung aspal,” kata Mamat (50), warga asli Sengon, saat diwawancarai, Senin (29/12/2025).

Perubahan signifikan terjadi seiring dengan pemekaran dan penataan wilayah administratif di Kota Bekasi. Kawasan yang sejak lama dikenal sebagai Ujung Aspal kini masuk dalam lingkup Kelurahan Jatisampurna, Kota Bekasi. Sementara itu, kawasan Sengon tetap berada di Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati.

“Sekarang perbedaan wilayahnya jelas. Sengon masuk Jatirahayu, kalau Ujung Aspal sudah beda, masuk Jatisampurna. Tapi bagi kita warga lama, sejarahnya tetap terhubung,” jelas Mamat.

Meskipun bukan nama resmi wilayah yang tercantum dalam administrasi pemerintah, istilah Ujung Aspal Pondok Gede mulai digunakan secara luas warga sebagai penanda lokasi. Pada masa itu, seluruh kawasan yang dikenal sebagai Ujung Aspal masih termasuk dalam wilayah Sengon, Jatirahayu.

Memasuki dekade 1980–1990-an, pembangunan jalan berlanjut sehingga akses menuju wilayah Jatiwaringin dan Jakarta Timur mulai terbuka lebar. Hal ini menyebabkan permukiman di sekitar kawasan Ujung Aspal bertambah banyak, dan pendatang dari berbagai daerah mulai menetap di sana.

“Dulu ujung aspal itu benar-benar di Sengon, dari Pondok Gede aspal habis sampai sana. Kemudian dibangun jalan lagi sampai pertigaan PLN-Mabes TNI karena ada Perumahan Baru Kranggan Indah, sampai sekarang tembus kemana-mana,” ceritakan Saleh, pria berusia 42 tahun, warga setempat yang telah tinggal di kawasan itu selama 35 tahun.

Herman (45), juga warga sekitar, menambahkan, wilayah ini mulai ramai sejak terjadi pemekaran dan perbaikan jalan secara menyeluruh. Banyak pendatang yang datang dan bangun rumah, sehingga aktivitas makin padat.

Saat ini, kawasan Ujung Aspal tidak lagi menjadi ujung jalan seperti dulu. Sebaliknya, jalur tersebut telah berubah menjadi kawasan padat penduduk dan titik pertemuan arus kendaraan dari arah Bekasi-Jakarta, sehingga seringkali mengalami kemacetan terutama pada jam sibuk. Aktivitas ekonomi informal seperti pedagang kaki lima, warung makan, dan toko kecil juga tumbuh pesat di sepanjang jalan.

“Kalau sekarang dari pagi sampai malam selalu ramai dan macet, apalagi waktu pulang sekolah atau kantoran. Tapi ini juga tanda bahwa wilayah ini makin berkembang,” tutur ujar Yanti (38), pedagang kaki lima yang menjual makanan di sekitar lokasi sejak 10 tahun yang lalu.

Meskipun demikian, nama Sengon masih digunakan secara luas warga Jatirahayu dan Pondok Melati sebagai penanda kawasan, meskipun tidak tercantum dalam administrasi resmi. Warga menilai bahwa perubahan wilayah tidak pernah mampu menghapus sejarah kawasan yang tumbuh seiring dengan pembangunan jalan.

(M Yuslih Maulana Aris)

Editor : Deros

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini