Kali Bekasi dan Perahu Eretan, Harapan Hidup Warga Kampung Pangkalan
Infobekasi.co.id – Sorot lampu perahu eretan berpendar dari kejauhan di pinggir jalan raya. Dalam kegelapan malam di Kampung Pangkalan, Desa Sukamekar, seorang pria duduk tenang di tepi aliran Kali Bekasi. Ia berjaga hingga dini hari, menanti warga yang hendak menyeberang setelah beraktivitas seharian. Derasnya arus sungai maupun hujan lebat tak pernah membuatnya pergi.
Hanya satu tujuan yang terpampang di benaknya, mencari nafkah bagi keluarga. Pria berusia 40 tahun itu adalah Nawih, penjaga sekaligus penarik perahu eretan yang telah melanjutkan pekerjaan orang tuanya sejak tahun 1989.
Kali Bekasi merupakan salah satu sungai utama yang melintasi wilayah Kabupaten dan Kota Bekasi, dengan panjang sekitar 65 kilometer dan mengalir dari wilayah Bogor hingga bermuara di Laut Jawa. Selain berperan sebagai drainase alami, sungai ini juga menjadi pembatas wilayah antar desa dan kecamatan, menjadikan penyeberangan menjadi kebutuhan penting bagi ribuan warga setiap hari.
Sebelum adanya jembatan-jembatan permanen di beberapa titik, penarik perahu eretan telah menjadi profesi yang ada sejak puluhan tahun di sepanjang aliran Kali Bekasi. Mereka bertugas mengangkut orang, kendaraan ringan, dan barang dagangan menggunakan perahu ditarik dengan tali atau sistem tambang terpasang di kedua sisi tepi sungai. Selain Kampung Pangkalan, terdapat beberapa titik penyeberangan eretan lainnya yang masih beroperasi hingga kini, menjadi bagian dari identitas budaya dan kehidupan masyarakat lokal.
Meskipun teknologi dan pembangunan infrastruktur berkembang, perahu eretan tetap menjadi pilihan utama bagi sebagian warga karena lokasinya yang menjadi jalan pintas dan tarif yang terjangkau. Para penarik eretan biasanya merupakan generasi kedua atau ketiga yang melanjutkan pekerjaan keluarga, menjadikan profesi ini bukan hanya mata pencaharian, tetapi juga warisan budaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sekitar 10 tahun menjajal profesi ini, Nawih berinisiatif memodifikasi sarana penyeberangan. Awalnya hanya menggunakan perahu kayu yang ditarik dengan tambang, kini Ia menambahkan jembatan kayu yang dapat dibongkar pasang untuk kenyamanan dan keamanan pengguna, terutama pengendara motor.
“Awalnya cuma perahu kayu yang ditarik pakai tambang. Sekarang kita modifikasi, ditambah jembatan dari kayu-kayu supaya lebih aman,” katanya.
Menurut Nawih, jembatan tersebut bukan permanen. Jika air sungai naik atau terjadi banjir, ia akan membongkarnya dan kembali menggunakan perahu eretan seperti dulu.
Pembuatan jembatan kayu tersebut menghabiskan biaya sekitar Rp20 juta, lebih mahal dibandingkan membuat perahu eretan yang hanya membutuhkan sekitar Rp15 juta.
“Kelihatannya sederhana, tapi biayanya besar. Bukan cuma kayu, kita perlu gentong untuk pelampung, tenaga orang buat pasang, dan pemasangannya juga sulit karena arus sungai,” jelasnya.
Di tengah kesibukannya berjaga setiap hari, Nawih mengaku merasakan kebahagiaan yang tak ternilai dari dukungan warga sekitar. Banyak di antaranya yang tidak hanya menjadi pelanggan, tetapi juga sahabat yang selalu siap memberikan bantuan saat diperlukan.
“Kalau saya sakit atau ada urusan mendadak, ada beberapa kerabat menggantikan saya berjaga sebentar. Kalau makan dan minum disini, biasanya istri yang bawain” ucapnya dengan senyum hangat.
Namun, di balik suka yang dirasakan, terdapat berbagai duka yang harus Nawih tanggung sendiri. Tantangan terbesar datang dari kondisi cuaca yang tak menentu. Saat hujan lebat dan air sungai meluap, Ia harus bekerja dengan risiko lebih tinggi, bahkan harus libur beberapa hari menunggu air kali stabil.
“Pas hujan deras, air kali bisa naik meluap. Mau enggak mau saya bongkar itu jembatan kayu. Perahu eretan juga kadang enggak mampu melintas. Terpaksa saya libur beberapa hari, nunggu air normal bisa dilewatin (sebrangi) lagi,” ujar Nawih.
Selain itu, kerusakan pada sarana penyeberangan yang sering terjadi juga menjadi beban finansial tambahan. Setiap beberapa bulan, Ia harus mengeluarkan uang untuk memperbaiki kayu yang lapuk atau mengganti drum pelampung yang bocor.
Dalam sehari, Nawih mengaku bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp150 ribu pada hari kerja, namun menurun drastis menjadi sekitar Rp60 ribu pada akhir pekan atau hari libur. “Kalau hari kerja ramai, apalagi anak sekolah. Tapi kalau libur, yang lewat sepi,” ucapnya.
Warga yang menyeberang dikenakan tarif Rp2.000 sekali jalan, dengan mayoritas pengguna adalah pekerja yang menuju Kota Bekasi atau Jakarta dan memilih jalur ini sebagai jalan pintas. Tak jarang ada yang tidak dapat membayar, karena alasan lupa membawa uang atau tidak memiliki uang kecil, namun Nawih selalu memberikan kelonggaran.
“Kadang ada juga yang enggak bayar karena lupa bawa uang atau uangnya besar, kan enggak saya ada kembaliannya. Ya sudah, saya kasih lewat saja, hitung-hitung sedekah,” katanya sambil tersenyum.
Sebagai tulang punggung keluarga dengan seorang istri dan dua anak, Nawih mengaku hanya mengandalkan pekerjaan ini. Ia tetap bersyukur karena rezeki yang halal lebih penting daripada jumlahnya. “Saya enggak mikir aneh-aneh. Banyak ya alhamdulillah, sedikit ya berarti segitu rezeki hari itu,” ujarnya.
Pemerintah daerah sempat mewacanakan pembangunan jembatan alternatif di Kali Bekasi demi keamanan warga, namun rencana tersebut belum terealisasi hingga kini. Kondisi ini membuat para penarik perahu eretan merasa khawatir.
“Kalau nanti dibangun jembatan permanen dan orang-orang enggak lewat sini lagi, saya pasrah. Tapi bingung juga nanti keluarga makan apa,” ucap Nawih dengan nada lirih.
Ia berharap, jika jembatan permanen benar-benar dibangun, pemerintah juga mempertimbangkan nasib mereka yang selama ini mengandalkan pekerjaan sebagai penarik perahu eretan sebagai mata pencaharian utama.
“Harapan saya, kalau memang jembatan permanen dibangun, kami juga harus dipikirkan. Karena ini satu-satunya mata pencaharian kami,” pungkasnya.
(Hana Maria Simanjuntak)
Editor : Deros



