infobekasi.co.id – Sore itu, 14 Januari 2026, seharusnya menjadi akhir giliran kerja yang tenang bagi seorang tenaga medis di Kota Bekasi. Namun, perjalanan pulang yang rutin Ia lalui berubah menjadi mimpi buruk saat roda motornya menghantam lubang di Jalan Ahmad Yani, tepat sebelum naik ke flyover Summarecon.
“Saya terjatuh dan sempat terseret di aspal,” ujar korban yang enggan disebut namanya, saat berbincang dengan Info Bekasi, Sabtu (31/1/2026). Di tengah rasa sakit yang menjalar, Ia masih tersadar saat warga sekitar bergegas membantunya menuju RS Mitra Keluarga.
Keesokan harinya, bukan seragam medis yang Ia kenakan, melainkan baju pasien. Dirinya masuk ke ruang operasi untuk menangani luka parah di punggung kaki kanannya. Tak hanya itu, kedua lututnya pun harus menerima jahitan.
Kini, dua minggu telah berlalu. Meski kondisinya membaik, sisa trauma dan luka fisik masih jelas terasa. “Sekarang masa pemulihan di rumah. Dua hari sekali harus kontrol lagi ke rumah sakit,” tuturnya dengan nada bicara yang masih menunjukkan kelelahan.
Musibah yang menimpanya menjadi pengingat pahit tentang kondisi infrastruktur di Kota Patriot. Baginya, lubang di jalan bukan sekadar kerusakan teknis, melainkan ancaman nyata bagi nyawa manusia, terutama para pengendara motor yang harus beradu dengan genangan air di musim hujan.
“Tolong diperbaiki dengan sungguh-sungguh, jangan asal tambal. Ini demi keselamatan kami semua di jalan,” harap Ia.
Persoalan jalan di Bekasi memang pelik. Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, mengakui, intensitas hujan yang tinggi membuat upaya perbaikan permanen sulit dilakukan segera. Saat ini, tim di lapangan baru bisa melakukan penambalan sementara di beberapa titik seperti Jalan HM Joyomartono.
Masalah kian rumit karena pembagian status jalan. Jalan Ahmad Yani, lokasi kecelakaan tersebut, berstatus Jalan Nasional di bawah kewenangan Kementerian PUPR, sementara jalur utama lain seperti Jalan Raya Narogong merupakan wewenang Pemprov Jabar.
“Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan provinsi,” ujar Tri menanggapi keluhan jalan rusak yang terus bermunculan.
Namun bagi sang tenaga medis, koordinasi antarinstansi tidak bisa menyembuhkan luka di kakinya. Ia hanya berharap, sebelum korban-korban lain berjatuhan, lubang-lubang maut itu tak lagi menghiasi wajah kota.








































