Dari Pabrik Otomotif Berjualan Tahu, Perjuangan Arif Mencari Nafkah Pasca PHK
Infobekasi.co.id – Jam menunjukkan pukul 04.30 WIB, pagi, saat cahaya matahari belum sepenuhnya menyingsing. Di rumah sederhana Kampung Cibuntu, Kabupaten Bekasi, Arif Rahman (30) sudah bersiap berangkat berdagang.
Di atas sepeda motornya, ratusan potong tahu tersusun rapi. Ia berkeliling dari satu tempat ke tempat lain mencari nafkah. Tiga tahun silam, pemandangan ini tak akan pernah terbayangkan olehnya. Saat itu, Arif adalah staf Pengendalian Mutu atau Quality Control di PT Sarana Karya Masindo, perusahaan komponen otomotif di kawasan industri Cikarang.
Segalanya berubah drastis ketika Ia bersama 20 rekan kerjanya terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Alasan yang dikemukakan manajemen saat itu adalah efisiensi dan kerugian perusahaan. Namun kenyataan yang terlihat di lapangan berbeda, hingga kini pabrik tersebut masih beroperasi seperti biasa. Hal ini menjadi luka sekaligus ironi yang mendalam bagi para mantan pekerja.
“Awalnya setelah di PHK saya sempat bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Akhirnya saya mencoba berusaha sendiri dengan berjualan tahu keliling. Alhamdulillah, sampai sekarang usaha inilah yang menjadi tumpuan hidup keluarga saya,” tutur Arif dengan nada tenang saat ditemui di wilayah Cibitung, Kamis (9/7/26).
Pertarungan demi haknya pun tak berjalan mudah. Perusahaan sempat menawarkan pesangon yang nilainya jauh di bawah ketentuan aturan, hanya sekitar setengah dari yang seharusnya diterima. Tawaran itu ditolak mentah‑mentah oleh Arif dan rekan‑rekannya.
“Kami tolak karena jumlahnya tidak sesuai perhitungan hak kami. Alasannya memang soal efisiensi, tapi kami tetap berhak mendapatkan apa yang seharusnya didapat,” tandas Arif.
Jalur hukum pun ditempuh, namun hasil awal belum berpihak padanya. Pengadilan Hubungan Industrial menolak gugatan agar Ia kembali bekerja di pabrik tersebut. Namun Arif tak berhenti berjuang, kini dirinya telah mengajukan upaya hukum kasasi ke Mahkamah Agung, berharap putusan yang adil.
Sambil menunggu kepastian itu, Ia tak berdiam diri. Arif sadar usia yang menginjak angka tiga puluh menjadi penghalang besar untuk kembali diterima bekerja di kawasan industri yang sangat ketat menyeleksi tenaga kerja. Pilihan jatuh pada usaha mandiri.
Mulai pukul 05.30 hingga 10.00 WIB setiap pagi hari, Dia berkeliling membawa hingga 900 potong tahu. Bersih keuntungan yang didapat sekitar Rp130.000 sehari. Jumlah itu cukup sekadar untuk makan sehari‑hari, namun hampir tak menyisakan apa‑apa untuk ditabung demi masa depan. Meski berat, Ia tetap berjalan tegak.
“Kalau cari kerja lagi, rasanya sulit karena faktor usia. Makanya saya tekuni usaha ini saja,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan dan perjuangan yang belum usai, Arif justru menjadi sumber semangat bagi teman‑temannya yang bernasib sama. Ia mengajarkan bahwa PHK bukanlah akhir dari segalanya.
“Untuk teman‑teman yang juga terkena PHK, tetaplah percaya diri, teguh pendirian, dan yang paling penting jangan pernah putus asa. Percayalah, di balik ujian berat ini pasti ada hikmahnya yang menanti,”pungkasnya penuh harapan.
(Ari/Ded)


