Menolak Punah di Jalur Tua, Rekam Jejak Sejarah Kereta Lokal Walahar
Infobekasi.co.id – Bagi masyarakat Bekasi, Karawang, hingga Purwakarta, Kereta Api Walahar bukan sekadar sarana transportasi, melainkan saksi bisu perjalanan mobilitas warga pinggiran menuju ibu kota dari generasi ke generasi.
Sebelum bertransformasi menjadi layanan modern seperti saat ini, kereta ini menyimpan rekam jejak bersejarah sistem transportasi darat sejak dekade 1970-an.
Berikut perjalanan kereta lokal Walahar dari masa ke masa, dilansir dari beberapa sumber, hingga bertransformasi seperti saat ini:
Awal Mula dan Era Kereta Diesel (1970 hingga 2000-an)
Kisah ini bermula saat Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) meluncurkan layanan Kereta Patas dan Lokal Purwakarta pada awal tahun 1970-an. Pada masa awal operasinya, kereta ini mengandalkan armada Kereta Rel Diesel (KRD) untuk mengangkut penumpang.
Seiring berjalannya waktu, pertumbuhan penduduk dan lonjakan jumlah penumpang harian membuat kapasitas KRD tak lagi memadai. Memasuki era 2000-an, PJKA-yang kemudian berubah menjadi PT Kereta Api Indonesia, mengganti armada KRD dengan rangkaian kereta penumpang konvensional yang ditarik lokomotif diesel elektrik.
Pada masa keemasannya, kereta lokal ini melayani rute langsung dari Stasiun Purwakarta ke Stasiun Jakarta Kota (via Jalur Atas), sebelum akhirnya dialihkan ujung rutenya ke Stasiun Tanjung Priok.
Kelahiran Nama Walahar dan Jejak Sejarah Karawang di mulai tahun 2017
Selama puluhan tahun, masyarakat lebih akrab menyebutnya KA Lokal Purwakarta. Identitas resminya lahir pada 1 Januari 2017 saat PT KAI melakukan penataan ulang nama layanan kereta lokal. Kereta ini resmi dinamakan Walahar Ekspres, beriringan dengan saudaranya, Cilamaya Ekspres.
Nama Walahar diambil dari Bendung Walahar, bangunan pengairan bersejarah di Klari, Kabupaten Karawang. Bendungan ini merupakan cagar budaya peninggalan kolonial Belanda yang pembangunannya dimulai 1920 dan diresmikan 30 November 1925 oleh Gubernur Jenderal Dirk Fock.
Pemberian nama ini sekaligus menegaskan peran vital transportasi kereta dalam melintasi wilayah lumbung padi Karawang. Dua tahun kemudian, pada perubahan Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) 2019, nama Cilamaya Ekspres dihapus dan seluruh operasinya dilebur ke dalam nama Walahar Ekspres.
Pandemi dan Pemangkasan Rute ke Ibu Kota (2020-2021)
Tahun 2020 menjadi titik balik paling krusial. Akibat pandemi Covid-19, PT KAI menghentikan total operasional Walahar Ekspres mulai 24 April 2020 untuk menekan penyebaran virus.
Saat kembali beroperasi pada 1 Januari 2021, rute legendarisnya menuju Jakarta dipangkas secara permanen. Kereta ini tak lagi masuk ke wilayah DKI Jakarta, melainkan hanya melayani perjalanan pulang-pergi CikarangzPurwakarta.
Kebijakan ini diambil guna mengurai kepadatan jalur utama yang semakin padat dilintasi KRL, sekaligus menetapkan Stasiun Cikarang sebagai titik transit utama bagi penumpang ingin melanjutkan perjalanan ke ibu kota.
Era Modern di Bawah KAI Commuter (2022-Sekarang)
Babak baru dimulai saat manajemen operasionalnya resmi dialihkan dari PT KAI Daerah Operasi 1 Jakarta kepada anak usahanya, PT Kereta Commuter Indonesia (KAI Commuter) Wilayah II Bandung. Seiring perubahan itu, namanya disesuaikan menjadi Commuter Line Walahar.
Meski kini berstatus kereta komuter yang berhenti di seluruh stasiun lintas Cikarang-Purwakarta, tarifnya tetap dipertahankan sangat terjangkau, yaitu Rp4.000 per penumpang.
Menggunakan rangkaian kereta ekonomi ber-AC, Commuter Line Walahar kini menjadi tulang punggung transportasi publik menghubungkan kawasan industri Bekasi dan Karawang dengan wilayah Purwakarta.
(ded)


