Jalan Narogong: Jalur dari Abad ke-17 Kini Menjadi Titik Rawan Kecelakaan di Bekasi
Infobekasi.co.id – Belasan pengendara sepeda motor tergelincir di sepanjang Jalan Raya Narogong, tepatnya dari Pangkalan 4 hingga Pangkalan 5. Dua orang korban dilaporkan harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Penyebab kejadian ini adalah permukaan jalan yang licin akibat air limbah atau lindi dari tumpukan sampah di truk yang mengeras lalu mencair.
Jalan Raya Narogong telah ditetapkan sebagai jalur black spot atau titik rawan kecelakaan di wilayah Bekasi. Catatan kepolisian mencatat, dalam kurun dua bulan terakhir telah terjadi 16 kasus kecelakaan di luar insiden jalan licin kali ini, di mana sebagian di antaranya berujung fatal.
Secara geografis, Jalan Raya Narogong membentang dari Rawapanjang hingga ke Cileungsi, sebelum berbelok menyambung dengan Jalan Siliwangi yang menghubungkan Cipendawa hingga Rawapanjang. Total panjang koridor jalan ini mencapai lebih dari 15 kilometer.
Menurut sejarawan Bekasi, Endra Kusnawan, Jalan Raya Narogong sebenarnya sudah ada sejak abad ke-17, dibuat mengikuti alur Kali Bekasi. Jalur ini awalnya dibuka untuk memudahkan distribusi hasil perkebunan menuju pusat Bekasi, lalu diteruskan ke Batavia.
Koridor ini mulai berkembang menjadi kawasan industri pada rentang tahun 1970-an hingga 1980-an, jauh sebelum kawasan industri modern seperti Jababeka, Lippo Cikarang, dan EJIP muncul pada awal 1990-an.
Pesatnya pembangunan kawasan industri mengubah fungsi jalan ini menjadi jalur padat kendaraan besar. Ditambah lagi dengan beroperasinya Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang sejak tahun 1989, Jalan Raya Narogong kini menjadi akses utama bagi truk-truk pengangkut sampah dari Jakarta menuju lokasi pembuangan akhir.


