Skip to content

Bukan Sekadar Tradisi, Rumah Pendek di Bojongmangu Punya Alasan Geologis dan Sejarah

Infobekasi.co.id – Masuk ke Desa Karang Indah, Kecamatan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi, terasa seperti kembali ke tahun 1990-an.

Suasana sejuk dengan pepohonan rimbun, rumah-rumah lebar dan berjarak, jalan berundak, serta hamparan sawah pascapanen menyuguhkan pemandangan yang tenang.

Di balik kesederhanaan bangunan itu, ada filosofi dan kearifan lokal penduduk setempat dalam beradaptasi dengan alam.

Struktur rumah warga di wilayah ini dirancang khusus menyesuaikan kondisi geologis setempat. Konstruksinya sengaja dibuat fleksibel untuk menyiasati karakter tanah tidak stabil.

“Kultur tanah yang tidak stabil, akhirnya emang masyarakat terdahulu ya seperti itu. Rumahnya lantainya tanah, bilik,” tutur Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Kasie PMD) Kecamatan Bojongmangu, Kandi Sunarya, Kamis (20/8/26).

Bentuk rumah yang memanjang ke belakang dengan ketinggian atap sekitar 2,7 meter ternyata bukan tanpa alasan. Kandi menyebut, dahulu warga tidak mendirikan rumah di jalan utama, melainkan di lembah-lembah sebagai bentuk pertahanan saat masa penjajahan.

“Kenapa enggak bikin tinggi?. Pertama, supaya enggak ketahuan sama tentara Belanda pada zaman penjajahan. Kedua, posisi pendek membuat bangunan jauh lebih aman dari terpaan angin kencang di lembah,” paparnya.

Selain faktor pertahanan dan iklim, desain memanjang juga berfungsi mendukung kemandirian warga.

Di dalam area hunian lapang terdapat blandongan atau lumbung padi berkapasitas puluhan ton, ruang penyimpanan alat tani, hingga kandang ternak, semua dalam satu lingkungan demi menjaga keamanan dan efisiensi hidup.

(Ari/ded)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *