Siklus Abadi Krakatau: Dari Katastrofa 1883 Hingga Fase Anak Krakatau Kini
Infobekasi.co.id – Kompleks vulkanik Krakatau di Selat Sunda merupakan salah satu gunung api paling aktif dan berbahaya di dunia. Karakteristiknya dibentuk siklus penghancuran dan pembangunan kembali tubuh gunung oleh aktivitas magma.
Hingga kini, sistem magmatik di bawah wilayah tersebut tetap aktif, menjadikan Krakatau objek studi sekaligus perhatian utama keamanan.
Data dari berbagai sumber, sebelum catatan sejarah modern, wilayah ini memiliki gunung purba masif mengalami letusan dahsyat pada abad ke-5. Peristiwa ini menghancurkan sebagian tubuhnya, membentuk kaldera bawah laut yang memperluas Selat Sunda dan memisahkan Jawa‑Sumatra.
Sisa kaldera muncul sebagai pulau Rakata, Panjang, dan Sertung, yang kemudian tumbuh kembali dengan Gunung Danan dan Perbuwatan.
Puncak aktivitas terjadi Agustus 1883 dengan kekuatan VEI 6 setara 200 megaton TNT. Ledakan pada 27 Agustus terdengar hingga Afrika, memicu tsunami setinggi 42 meter merenggut lebih dari 36 ribu nyawa, serta melepas gas yang mendinginkan suhu bumi secara global. Dua pertiga tubuh Krakatau runtuh ke laut.
Pasca‑1883, kaldera bawah laut kembali aktif. Pada 29 Desember 1927 mulai muncul ke permukaan, lalu resmi bernama Gunung Anak Krakatau pada Juni 1929 dengan pertumbuhan rata‑rata 4-6 meter per tahun hingga mencapai ketinggian 338 mdpl.
Pada 22 Desember 2018, lereng barat daya longsor masif ke laut memicu tsunami mendadak tanpa sinyal gempa tektonik, menewaskan 437 warga pesisir. Bentuk gunung berubah drastis dan tingginya menyusut tajam menjadi sekitar 110 meter di atas permukaan laut.
Kondisi terkini sebaran abu vulkanik status naik ke Level III (Siaga) sejak 2 Juli. Fase erupsi tercatat kuat pada 4-5 September berupa semburan lava vertikal yang berhenti resmi Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB. Sisa aktivitas masih berupa pelepasan gas dan getaran lemah.
Pemantauan satelit Himawari‑9, debu halus terbawa angin hingga wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu. Hal ini berdampak pada penutupan sementara beberapa bandara demi keselamatan penerbangan.
Imbauan Keselamatan
PVMBG, masyarakat dan wisatawan dilarang mendekat ke radius 3 km dari kawah. Warga pesisir diminta tetap tenang, waspada terhadap hoaks, dan memantau informasi resmi dari BMKG serta Dinas Terkait. Wilayah pantauan berjalan terus selama 24 jam.
#Krakatau #Infobekasi #Erupsi
(ded)


