Skip to content

ANNAS Nyatakan Sikap Atas Pelaksanaan Festival Kuliner Lintas Iman

FESTIFAL LINTAS IMANBEKASI SELATAN – Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS), hari ini, Jumat (22/1) siang melakukan pernyataan sikap atas pelaksanaan Festival Kuliner Lintas Iman di alun-alun Bekasi, depan masjid Agung Al-Barkah beberapa waktu lalu.

“Setelah kami melihat peristiwa yang terjadi dalam Festival Kuliner Lintas Iman, maka kami menyatakan sikap dalam enam poin utama. Kami mengutuk kegiatan yang diselenggarakan oleh Syiah dan Ahmadiyah, mempertanyakan kepada Pemkot tentang perizinan, menegur keras panitia penyelenggara, mendesak panitia untuk memberi penjelasan, mendesak aparat untuk memberi ketegasan dan menyeru masyarakat untuk mewaspadai usaha-usaha gerakan menyimpang yang berkedok sosial,” ujar Ketua Annas Bekasi Raya, Nasrullah, dihadapan para media pada konfrensi pers di aula Masjid Al-Barkah.

Ia menjelaskan, kegiatan Festival Kuliner Lintas Iman yang terselenggara pada  17 Januari kemarin telah menodai kerukunan masyarakat di Kota Bekasi.

“Ada perasaan yang harus kita kedepankan, yaitu toleransi. Oleh karena itu, Anas yang mendapat info langsung turun investigasi. Ternyata kami melihat ada kelompok Syiah dan Ahmadiyah yang kita rasa itu mengusik. Karena selain adanya festival kuliner, ada juga festival musik didalamnya,” terangnya.

Dirinya mengaku langsung menghubungi pihak pemerintah Kota Bekasi. Namun, baik dari BPLH maupun Disporbudpar tidak ada yang menyatakan telah memberi izin acara tersebut.

“Namun kami sangat apresiatif karena Pemkot Bekasi responnya cukup baik untuk menciptakan keseimbangan dan kerukunan antar umat beragama. Buktinya, Pemkot langsung membentuk tim untuk melakukan investigasi,” terangnya.

Ditemui di lokasi yang sama, Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik, Momon Sulaiman, menegaskan bahwa memang benar kegiatan yang dipermasalahkan tersebut jelas tak berizin.

“Ini tidak berizin. Walikota menyimpulkan bahwa pihak Pemkot merasa menyesal atas kejadian ini. Maka dari itu, Pemkot bersama organisasi, berdasarkan hasil keputusan pada pertemuan lalu langsung membentuk tim penyelidikan untuk memantau dan menyelidiki kegiatan tersebut,” paparnya.

Kedepannya, Momon berharap jangan sampai ada lagi kegiatan yang sejenis ini di Kota Bekasi.

“Kalau ada seni dan lainnya kan pasti mengganggu peribadahan di masjid Al-Barkah. Kedepan kita akan usulkan untuk disusun Standart Oprational Procedure (SOP) dalam penggunaan taman alun-alun supaya jelas,” pungkasnya. (Sel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *