Makna Wisuda Bagi Mahasiswa STID Mohammad Natsir

STID Mohamad Natsir JakartaWisuda merupakan tanda kelulusan bagi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Setelah diwisuda, pada umumnya para mahasiswa akan merasa senang, karena sudah terlepas dari segala aktivitas kampus. Seperti, misalnya mengerjakan tugas-tugas dari dosen.

Makna wisuda tidak bisa dipaksakan bagi tiap-tiap orang, begitu juga dengan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah (STID) Mohammad Natsir, Jakarta.

Setelah didunia perkuliahan menjalankan tahfidz Al-Quran 4 juz, Praktek Kerja Lapangan (PKL), skripsi, dan wisuda, mahasiswa STID Mohammad Natsir masih mendapatkan tantangan baru. Yakni pengabdian kepada masyarakat di pedalaman selama satu tahun.

Namun beda halnya dengan para mahasiswa yang mendapatkan beasiswa penuh. Menurut informasi baru-baru ini, kampus ini akan menetapkan dua tahun pengabdian bagi mereka, setelah wisuda nanti. Lagi-lagi ini merupakan tugas yang berat, yang dibebankan kepada mahasiswa oleh kampus.

Kampus Da’wah STID Mohammad Natsir tentunya sangat berbeda dengan kampus da’wah lainnya. Dimana STID Mohammad Natsir merupakan kampus pencentak kader da’i Ilallah. Sehingga bagi mahasiswa, setelah wisuda, walaupun tidak mengabdi, ia juga akan mengemban tugas yang berat, yaitu kembali kepada masyarakat untuk berda’wah, bukan untuk bekerja selayaknya orang pada umumnya.

Hal inilah yang membedakan dengan kampus lainnya. Mahasiswa selama di kampus selalu dalam pengawasan. Setelah lulus, mahasiswa tidak ada lagi pengawasan dari kampus. Alasan inilah yang membuat saya ingin bertanya kepada wisudawan/wati ke VI (31/03).

Pertanyaannya, bisakah para wisudawan dan wisudawati bergelut dalam pemikiran yang bebas di Indonesia? Bisa berinteraksi dengan masyarakat bawah? Yang jika dilihat dari segi finansial, mereka tidak membutuhkan pendidikan, namun yang mereka butuhkan hanya makan. Siapkah untuk mengembang perekonomian masyarakat? Dan berbagai pertanyaan lainnya, yang tentu para wisuda mampu menjawabnya, lantaran dalam penulisan skripsi adalah menyelesaikan masalah, bukan membuat masalah.

Dari pertanyaan-pertanyaan di ataslah yang membuat saya menunda skripsi. Karena belum memiliki kemampuan da’i yang benar-benar Ilallah, yang hanya berharap kepada Allah semata. Inilah yang saya usahakan untuk tetap istiqomah bertahan untuk menjadi Mahasiswa Paling Lama (Mapala).

Keputusan saya yang seperti itu bukan karena sok-sokan, tetapi justru untuk mengasah segala kemampuan diri saya sendiri untuk bisa bermasyarakat dengan baik.

Mengerjakan skripsi dan menjalankan sidangnya membutuhkan biaya. Belum lagi wisudanya. Hal yang seperti ini bagi saya memang memusingkan, karena sebagai anak desa, yang baru masuk ke Jakarta.

Namun patutlah saya ucapkan terima kasih kepada seluruh wisudawan dan wisudawati, karena dengan menghadiri wisuda kali ini, buat saya semangat untuk berjuang dalam mengerjakan tuga-tugas akhir dari kampus.

Bagi wisudawan/wisudawati STID Mohammad Natsir yang telah sukses menjalankan tugas selama ini, semoga Allah selalu memberkahi kita semua. Mohon doanya kepada kami yang belum wisuda, semoga Allah memberikan jalan kemudahan kepada kita untuk bisa menjadi perkerja yang digaji langsung oleh Allah SWT. Sebagai tugas pewaris para nabi dan ambiya, da’i illallah namanya.

Semoga sukses wisudawan dan wisudawati ke VI Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah Mohammad Natsir, Jakarta!

Kramat Raya, 30 Maret 2016

Oleh: Amriadi Al Masjidiy

Penulis merupakan mahasiswa semester 8 di STID Mohammad Natsir, Jakarta, Asal Aceh.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini