Kartini Zaman Sekarang, Susi Pudjiastutikah?

Susi vs AtutMenteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, merupakan Kartini dalam versi lain. Jika Kartini memperjuangkan hak perempuan, khususnya dalam bidang pendidikan, seorang Susi menunjukkan kepada kita semua bagaimana perempuan bisa juga menjadi seorang pemimpin.

Sejak diputuskannya Susi sebagai menteri oleh Joko Widodo, untuk masa jabatan 2014-2019, namanya mulai terkenal. Terutama karena ia adalah seorang perempuan, yang penampilannya eksentrik. Merokok (masih ada anggapan, dan mungkin ini hanya berlaku di Indonesia, bahwa perempuan yang merokok adalah perempuan yang nakal), memiliki tato, dan pembawaannya terkesan santai, namun justru ia tegas.

Terkait kebiasaan Susi yang tempo lalu ramai dibicarakan, karena fotonya yang sedang merokok, dan foto tato yang dimiliki olehnya ini, ada kesan bahwa memang memiliki jabatan di sebuah pemerintahan menjadikan dirinya terkungkung dalam sebuah aturan ketat, yang disebut dengan disiplin, atau bahkan hanya karena beliau adalah perempuan? Bagaimana dengan menteri lainnya yang memiliki genre laki-laki ketika ia sedang merokok, apakah akan seheboh dengan Susi? Bagaimana bisa merokok dianggap sebagai perempuan nakal, jika hukum yang ada adalah makruh? Dan untuk tato yang dimiliki, bukankah itu bagian dari tubuhnya? Bagaimana bisa masyarakat seperti merasa berhak atas bagian tubuhnya yang bertato itu?

Susi tetaplah Susi. Ia berhak atas tubuhnya sendiri. Tidak ada yang bisa berhak menilainya. Ia punya kuasa atas tubuh miliknya.

Hebatnya lagi, selain sebagai menteri, seperti yang sudah diketahui bersama, ia adalah seorang pengusaha sukses. Perusahaan yang didirikan olehnya ini tentu saja hasil kerja keras. PT ASI Pudjiastuti Aviation, perusahaan yang bergerak dalam bidang ekspor hasil-hasil perikanan. Ini menunjukan pada semua orang bahwa perempuan bisa menjadi hebat. Apalagi dengan ketegasan yang dimiliki olehnya ketika ia melaksanakan Undang-Undang sudah menenggelamkan 151-an kapal asing pencuri ikan-ikan di perairan Indonesia. (Saras)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini