Saonih, Nenek Penghuni Posko Banjir PGP yang Terakhir

Nenek Saonih yang masih berada di posko banjirJATIASIH – Musibah banjir akibat Tanggul yang jebol di Pondok Gede Permai (PGP) memang sudah surut, begitu pula para korban yang sempat bermukim di posko-posko tanggap bencana sudah mulai kembali ke rumah masing-masing. Namun, di posko Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB) masih tersisa satu penghuni terakhir.

Adalah Saonih, seorang nenek berusia 87 tahun ini masih harus bermukim di tenda darurat seorang diri. Dengan ditemani para petugas yang berada di posko, Saonih hanya mampu berbaring dan terus menangis.

“Anak saya tinggal di sini, katanya mau bersih-bersih rumah dulu. Mak kan lumpuh, jadi nggak bisa ke mana-mana,” ujar wanita yang akrab disapa Mak Saonih saat bercengkrama dengan infobekasi.co.id, Selasa (26/04) di posko BNPB.

Wanita tua yang sudah mulai menderita kepikunan ini berusaha menceritakan setiap bagian yang diingatnya dalam kejadian banjir yang menimpanya, Kamis (21/04) lalu.

“Ada air masuk rumah tinggi banget, terus ada perahu (perahu karet untuk evakuasi korban), Mak naik perahu itu terus dibawa ke sini. Tidur di sini, makan di sini, sampai sekarang,” kenang Saonih sambil menangis.

Kepada infobekasi.co.id ia juga mengungkapkan rasa syukurnya karena masih diberi kesempatan hidup meski dengan kondisinya yang lemah dan harus terus berbaring di tenda, meskipun aroma tidak sedap kerap muncul di tenda tersebut. Wajar saja, beberapa hari terakhir tenda itu bekas diisi puluhan korban banjir. Apalagi, karena Mak Saonih menderita penyakit diabetes, dia harus ditempatkan di tenda khusus rentan penyakit.

“Alhamdulillah, masih selamat. Mak dibantu orang-orang yang baik. Mak padahal juga punya penyakit gula. Dulu Mak kayak orang bunting, perutnya besar karena sakit gula, alhamdulillah sudah dikeluarin,” kata dia.

Menurut petugas yang sedang berada di posko BNPB, Safrudin, mengatakan Saonih memang diminta menunggu di tenda oleh pihak keluarga karena harus bersih-bersih rumah.

“Mak Onih memang sakit diabetes. Dia lumpuh dan kalau diajak ngomong suka ngelantur. Tapi keluarganya nitipin karena mau bersih-bersih rumah bekas banjir, kan listrik sudah mulai nyala,” jelas Safrudin.(Sel)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini