BEKASI SELATAN – Kepala Seksi Penatagunaan Lahan (PGL) Dinas Tata Kota Bekasi (Distako), Johan Budi Gunawan yang sekaligus Pelaksana Teknis Sayembara desain Pasar Proyek, membantah kabar yang mengatakan revitalisasi Pasar Proyek, Bekasi Timur akan dijadikan Kawasan Pecinan.
Menurutnya, pernyataan tersebut tidak ada korelasinya dengan sayembara desain fasade pasar proyek yang sedang digagas Dinas Tata Kota Bekasi untuk menggali akar budaya serta sejarah Bekasi.
“Saya tak ingin membahas kabar tersebut lebih jauh, karena menurut saya tak ada korelasinya. Justru disini saya ingin lebih memfokuskan pada agenda Sayembara Desain Fasade Pasar Proyek lama dan Penataan Reklame di jalan Ahmad Yani,” ujarnya kepada infobekasi.co.id, Senin (8/8).
Ia menjelaskan bahwa area yang menjadi batas titik lomba meliputi sebelah selatan jalan Mayor Oking, kemudian dari arah Timur mulai dari Masjid Al Muwahidin lama (Al-Ahyar), lalu dari Utara pintu perlintasan kereta api jalan H. Agus Salim, dan dari arah Barat jembatan pasar proyek.
Lebih lanjut Johan juga menginformasikan bahwa rencananya pada 22 Agustus nanti, pihaknya akan menggelar Forum Group Discussion (FGD) guna lebih mengerucutkan materi sayembara.
Sebelumnya, Pemerintah kota Bekasi yang melakukan sayembara guna menata kawasan kota tua di wilayah Pasar Proyek, menuai beberapa penolakan dari berbagai kalangan. Bahkan, budayawan Bekasi, Ali Anwar menghawatirkan bahwa rencana pengelolaan tersebut akan berujung pada menjadikan Pasar proyek sebagai kawasan pecinan karena lokasinya berdekatan dengan klenteng.
“Saya menjadi khawatir suatu saat akan terjadi apa-apa seperti terjadi pada kerusuhan Mei 1998 lalu. Ini kan paling gampang disulut, dan saya menemukan konsep (menjadi kawasan pecinan) itu,” ujar Ali Anwar.
Menurutnya para pelaku bisnis disana tidak hanya dominan dari etnis Cina tapi banyak juga dari kalangan warga pribumi dan komunitas kampung Arab
“Pedagang itu juga bukan semuanya orang Cina tapi saudagar-saudagar muslim ada disana bahkan pemilik toko yang cina cuma beberapa persen saja dan sebagian besar tetap pribumi, cuma memang pedagang-pedagang Cina itu membangun tokonya dengan ornamen-ornamen kecinaan, didekat klenteng itu pun ada orang-orang Arab,” paparnya.
Konsep kota tua itu sendiri, menurutnya jangan sampai menjadi kawasan pecinan, bukan karena sentimen etnis tapi justru alasan ini untuk membela kepentingan warga keturunan cina juga.
“Berapa kali saya bilang, jangan sampai menonjolkan unsur kecinaanya di Bekasi, karena sejarah telah mencatat berapa kali terjadi kerusuhan itu yang kena mereka sendiri, jadi simbol-simbol itu jangan terlalu diangkat,” jelasnya.
Ali Anwar menyarankan siapapun boleh masuk ke Bekasi tetapi pemerintah daerah juga harus melihat kondisi sosial budaya masyarakat dan sejarah Bekasi. (Sel)








































