Prihatin Dengan Dunia Politik, Sales Mobil Ini Mantap Nyaleg

Kader PSI,Ready Brahmana Yudha, bersama Ketua DPP PSI, Tsamara Amany.

JAKARTA– Ready Brahmana Yudha, berkarir pegawai swasta, mantap terjun ke dunia politik dan berniat maju sebagai bakal calon legislatif (Bacaleg) di DPRD DKI Jakarta pada pemilihan legislatif (Pileg) 2019 mendatang. Pria kelahiran 30 tahun silam ini, akan maju lewat Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dari daerah pemilihan (Dapil) IV Jakarta Timur wilayah Cakung, Pulogadung, dan Matraman.

Pria yang akrab disapa Ready mengungkapkan, alasan terjun ke dunia politik berawal dari keprihatinannya terhadap perkembangan politik di negeri ini. Menurutnya, dunia politik saat ini terlalu banyak diisi para politikus oportunis yang hanya menjual janji kampanye untuk tujuan berkuasa dan mencari keuntungan semata.

Ia menegaskan, terjun ke politik lantaran bukan hanya kesukaannya terhadap dunia politik. Lebih dari itu, ia berkeinginan menerapkan dunia politik yang bernilai profesional, transparan dan integritas, seperti yang sudah diterapkannya sebagai pegawai swasta.

“Saya terjun ke dunia politik ingin menjadi bagian dari barisan yang bisa membawa perubahan politik Indonesia ke arah lebih baik. Dunia politik yang mengutamakan nilai-nilai profesional, transparan dan integritas untuk membuat Indonesia,  kota Jakarta khususnya bebas dari korupsi dan intoleransi,” ujar Ready yang bekerja sebagai Sales Manager di perusahaan otomotif ini saat berbincang dengan infobekasi.co.id, Selasa (03/04).

Jebolan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini mengaku, sangat peduli dengan pengembangan generasi muda kota Jakarta. Ia melihat, Ibu Kota Negara itu, memiliki bonus demografi yang baik yaitu generasi muda yang melimpah.

Namun sayangnya, kata dia, masih banyak generasi muda yang tidak bisa berkontribusi produktif terhadap kemajuan kota Jakarta. Bahkan, Ready berujar, tidak sedikit dari mereka yang sulit untuk mencari pekerjaan sehingga berujung dengan pengangguran. Akibatnya, mereka yang tidak bisa menyalurkan energinya untuk hal positif dan berkontribusi mendorong peningkatan premanisme, kenakalan remaja, serta tindakan  radikalisme.

Kondisi tersebut, menurut dia, karena masih banyak generasi muda yang tidak memiliki kompetensi dan keterampilan yang baik, sehingga daya saing mereka dalam berkompetisi di tengah kemajuan kota sangatlah rendah. “Niat saya maju menjadi Caleg dengan harapan ingin memperjuangkan semua itu,” ujarnya.

Jika terpilih, ia berjanji, dari legislatif akan mendorong pemerintah supaya dapat memberikan solusi atas masalah yang membuatnya sangat prihatin tersebut. Diantaranya dengan mendorong pemerintah menciptakan kegiatan seminar atau pelatihan yang dapat meningkatkan keterampilan para generasi muda.

Selama ini, menurutnya, ilmu yang didapatkan oleh generasi muda dari pendidikan formal masih terlalu umum dan tidak bisa menjawab kebutuhan tenaga kerja di sektor swasta. Selain itu, program pemerintah seperti pelatihan kerja yang dilaksanakan oleh Pusat Pelatihan Kerja Daerah (PPKD) dan program OK OCE yang bertujuan menciptakan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) Jakarta, juga menurutnya mesti harus ditingkatkan lagi.

“Dari program pemerintah, mulai dari cakupan, dan jenis pelatihan harus di tingkatkan lagi. Yang terpenting harus ada target dan tujuannya. Jangan hanya sekadar program yang penting terlaksana namun tidak menghasilkan kualitas yang baik dari program tersebut,” katanya.

Ready mengaku sudah memiliki pemikiran untuk mendorong pemerintah agar bekerja sama dengan sektor swasta dengan menyiapkan program pelatihan bagi generasi muda. Dari program pelatihan itu, peserta terbaiknya bisa mendapatkan kesempatan langsung disalurkan ke sektor swasta yang membutuhkan sumber daya manusia (SDM). “Itu merupakan isu isu yang ingin saya perjuangkan di DPRD DKI nanti,” kata dia.

Ready mengatakan, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) merupakan partai anak muda. Ia memilih partai tersebut sebagai kendaraan politiknya, karena sesuai dengan apa yang di perjuangkannya yakni pemberdayaan generasi muda Jakarta. Sebab itu, ia berkeyakinan bisa menjadi politikus yang baik di PSI. Ia menilai, partai yang berdiri usai pemilu 2014 itu selalu menciptakan iklim berpolitik yang baik bagi para kadernya.

Menurutnya, partainya tersebut meyakini bahwa masalah korupsi yang terjadi saat ini di Indonesia karena masalah rekrutmen yang tidak jelas, kaderisasi yang tidak profesional dan sistem pendanaan partai yang tidak transparan pada partai politik. Akibatnya, masalah tersebut menjadikan mesin partai menjadi korup. Sehingga upaya untuk memperjuangkan nilai-nilai anti korupsi dapat diragukan.

Hal ini berbeda di PSI yang selalu melakukan seleksi caleg secara terbuka, tanpa mahar 1 rupiah pun. Setiap caleg menjalani sistem seleksi berdasarkan kompetensi, serta diuji oleh pihak eksternal yang independen. Dengan demikian, mampu menghasilkan Bacaleg yang beraneka ragam dari berbagai sektor dengan berbagai kompetensi dan misi yang ingin diperjuangkan, bukan hanya menghasilkan bacaleg yang memiliki uang dan ingin menjadi legislatif untuk tujuan berkuasa dan memainkan uang rakyat.

Selain itu, para Bacaleg terpilih di kaderisasi mengenai ilmu pelayanan publik dan politik yang dilakukan oleh pihak eksternal yang kompeten di bidangnya agar dapat menciptakan Caleg yang professional untuk memperjuangkan harapannya di dewan nanti.

Tak hanya itu, PSI juga mengumpulkan sistem pendanaan partai yang terbuka dengan cara fund raising lewat kegiatan patungan rakyat agar semakin banyak masyarakat yang ikut memegang saham di partai. Semua pendanaan tersebut dilakukan secara transparan serta dilaporkan kepada para investor partai tersebut. Pendanaan partai yang transparan, merupakan kunci menciptakan mesin partai yang sehat.

“Karena hal tersebut, saya percaya PSI bisa menjadi alat politik yang baik untuk memperjuangkan isu-isu yang menurut saya sangat memprihatinkan,” katanya.

Ia mengaku, telah mendapatkan dukungan penuh dari lingkungan sekitar, keluarga khususnya. Dukungan ini membuatnya semakin mantap, dan percaya diri untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat menjadi anggota dewan. “Keluarga sangat mendukung untuki saya dapat menjadi manfaat bagi banyak orang. Karena keluarga saya meyakini, bahwa hidup itu harus bisa bermanfaat bagi banyak orang, dan jika dengan terjun ke dunia politik bisa membawa kebaikan bagi banyak orang mereka sangat mendukung,” tuturnya.

Berbagai persiapan sudah mulai dilakukannya untuk memuluskan niatnya tersebut. Diantaranya dengan membentuk tim kecil yang membantunya dalam mengumpulkan masalah atau isu sosial yang terjadi di dapilnya. Secara berkala, ia juga mulai melakukan blusukan dengan turun kedapil untuk menemui warga agar bisa mendengar secara langung masukan dari warga sekaligus menjalin silaturahmi.

“Saya mulai turun langsung ke dapil, agar masyarakat bisa mengenal siapa calon yang akan mewakili mereka diparlemen nanti. Dan supaya saya juga bisa mengenal dekat dengan siapa yang menjadi bos saya dikemudian hari, karena menjadi wakil rakyat itu adalah menjadi anak buah rakyat, rakyat adalah bos saya,” tukasnya. (bams)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini