Ramadan Tahun Ini, Produksi Timun Suri Menurun

Infobekasi.co.id – Ketersediaan buah dingin segar untuk berbuka puasa tahun 2021 di Bekasi, saat ini sedikit dibanding tahun sebelumnya.

“Telat tanam dan juga banyak yang gagal karena musim hujan dan cuaca ekstrim, “ ujar Seri, 50, petani timun suri saat ditemui di Kp Pulo Puter, Desa Srimahi, Tambun Utara, Sabtu (17/04/2021).

Biasanya sebelum bulan puasa pedagang timun suri mulai bermunculan. Mereka berjejer di tepi jalan pantura wilayah Cibitung dan Cikarang serta Kedungwaringin dan bahkan di tepi jalan Tol Jakarta-Cikampek.

Menurut Seri, dia terpaksa mengambil dari pengepul di Karawang dan Indramayu dan menggelar dagangannya di tepi Jalan Raya Jejalen Jaya tepat di belakang kebun timun suri miliknya, “Biasanya dari sini pasokan timun suri ke beberapa daerah,” katanya.

Kebun miliknya belum banyak berbuah, yang sekarang dipetik hanya beberapa saja karena keburu besar dan takut busuk, “Ada hanya beberapa biji saja yang bisa dipetik,” katanya. Dibantu Lingga, 19, sang anak Seri merawat tanaman yang nama latinnya Cucumis sativus dan termasuk varietas tanaman cucumber ini.

Buah yang tidak memiliki rasa, namun beraroma harum ini dan teronggok di depan kebunnya dibeli dengan harga Rp 6.000/kg sampai tempat. Kalau menjualnya menurut dia ada yang sampai Rp 12 ribu/kg.

“Timun suri sama juga dengan tanaman, jagung, mentimun dan ubi, kapan saja bisa. Soal musim kita yang ngatur,” cetus Seri. Menurut dia, masa panen timun suri hanya dua bulan. “Tinggal hitung aja, bulan apa kita mulai tanam,” lanjut ayah tiga anak yang biasa menanam sayuran ini.

Menanam timun suri, sama halnya seperti menanam mentimun namun berbeda dengan semangka dan melon yang perlu banyak pupuk dan air. “Kalau timun suri, setelah biji bertunas dan berdaun hinga sepanjang 10 cm, cukup menyiram saja pagi siang sore,” jelas Seri, yang mengaku jika ukuran air dan kebutuhan tanaman itu seimbang, maka buah yang diperoleh besar dan bagus.

Bentuk buah yang pohonnya menjalar ini ada yang sebesar pepaya Bangkok dan beratnya pun mencapai 5 kg. “Tetapi orang jarang yang mau beli seberat itu,” tambah Seri, yang mengaku sebelum menanam dia membuat galengan /tamggul berukuran 1 meter kali 50 meter jumlahnya tergantung luas lahan.

Timun suri dapat berbuah setelah tanamannya berusia dua bulan dan itu pun hanya beberapa buah saja. “Orang menyebutnya buah percobaan dan setelah tiga bulan baru lancar, kemudian mati dengan sendirinya,” jelas Seri.

Modal yang dikeluarkan untuk 1 hektar tidak kurang dari Rp 500 ribu.”Itu hanya untuk membeli bibit dan pupuk dan ongkos pembuatan galengan/tanggul. “Kalau panen, 1 hektar bisa mencapai Rp 6 juta selama tiga bulan bersih,” cetus Seri. (saban)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini