Paijo, Putus Sekolah Tidak Punya Ijazah Bangkit Jadi Penjahit Vermak Levis 

infobekasi.co.id – Jalan hidup manusia tidak ada yang tahu. Begitu juga nasib dan rezeki. Manusia hanya menjalankan peran dan mengunakan waktu untuk mengasah skill (kemampuan) untuk bertahan hidup.

Bisa karena terbiasa. Begitu perjalanan hidup anak muda bernama Natas (22) yang akrab dipanggil Paijo punya kisah bangkit dari keterpurukan, memulai karir menjadi seorang penjahit vermak levis yang terletak di Pondok Ungu Permai (PUP), Bekasi utara.

Profesi sebagai penjahit dan vermak levis dilakoni sejak usia belia umur sekitar 13 tahun. Paijo putus sekolah, lantaran terlalu asyik mencari uang sejak kecil. Ijazah SD pun Ia tidak punya.

Terlahir dari keluarga petani, sempat ikut membajak sawah, akhirnya Ia “hijrah” ikut saudara di Bekasi, belajar menjahit vermak levis.

Pertama kali ikut kerja vermak levis. Ia masih ingat, ilmu pertama yang diajari saudaranya yakni membuka benang jahitan. Setelah itu benang yang di buka tadi kembali dijahit kembali. Begitu berulang-ulang. Hingga butuh tiga bulan belajar ilmu dasar menjahit baru bisa.

“Pertama kali saya belajar jahit itu disuruh (rombak) buka jahitan. Abis itu disuruh dijahit kembali seperti semula. Itu susahnya minta ampun. Karena baru pertama kali, belum bisa,” kenang Paijo saat berbincang dengan Jurnalis infobekasi.co.id di Pondok Ungu Permai, Bekasi Utara, Rabu (7/06/23).

Akhirnya, selama tiga bulan belajar cara menjahit, Ia perlahan-lahan mulai dipercaya memegang orderan jahit vermak. Meski saat itu belum profesional dan masih meraba-raba takut salah.

Tidak puas dengan ilmu didapat, pria ramah ini terus eksplore ilmu menjahit. Mulai dari jahitan standar hingga jahitan rumit. Mulai menerima orderan vermak pakaian pelanggan yang ramah, hingga pelanggan yang banyak maunya. Ia hadapi dengan sabar.

“Kuncinya sabar dan ramah menghadapi keinginan pelanggan. Di marahi pelanggan pernah. Hal tersulit yang pernah saya alami saat rombak (vermak) pakaian jas kawan. Itu pengalaman yang sulit, Jahitannya beda dengan jahitan biasa. Jas kawan itu jadi ‘korban’, alias gagal, hasilnya tidak sempurna,” tutur Paijo mengenang masa sulit saat awal belajar jahit

Namun, Paijo tidak patah arang, malah semakin semangat ingin menguasai ilmu menjahit. Dirinya sering merelakan pakaiannya untuk jadi bahan percobaan vermak.

“Saking ingin bisa jahit, pakaian saya jadi korban buat belajar vermak. Daripada punya orang lain, pakaian saya ajah. Kalau gagal kan enggak merugikan orang lain, dan enggak ganti rugi” seloroh pria asal Purworejo, Jawa Tengah yang kini tinggal di Bekasi Utara.

Hari demi hari, berkat kesabaran dan keuletannya itu, Dia berhasil menguasai cara menjahit. Butuh waktu lama, tujuh tahun Ia ‘menimba’ ilmu menjahit. Belajar dan belajar hingga saat ini.

Waktu yang cukup lama itu ternyata tidak cukup untuk hidup mapan. Paijo pernah ‘kena mental’ alias minder lantaran mendengarkan omongan tetangga di kampung. Di tambah desakan orang tua, bahwa kerja itu musti ada hasil yang nyata.

“Sempat kena mental. Berhenti selama enam bulan, enggak menjahit. Soalnya saya terlalu mendengarkan omongan orang lain. Di mata mereka kerja itu banyak uang, bisa punya ini itu. Tapi kan sukses itu butuh proses. Orang lain tidak tahu kalau kita kerja susahnya gimana. Suka dukanya mereka enggak tahu,” cerita Paijo.

Anak bontot dari sembilan saudara ini, sempat melalang buana ke Jogja. Sempat kerja jualan pakaian batik di pasar Maliboro, Jogja. Namun, tidak bertahan lama, Ia balik lagi ke Bekasi menekuni profesi awal sebagai penjahit vermak levis.

“Sempat nyoba kerja jualan pakaian batik di Jogja. Tapi enggak lama sekitar tiga bulan balik lagi ke Bekasi,” ungkapnya.

Ternyata garis tangan alias jalan hidup Paijo di mesin jahit. Hal itu membuat Ia yakin, bahwa profesi menjahit juga bisa menjadi modal masa depan untuk bertahan hidup, menafkahi keluarga dan mengembangkan usaha ke depannya.

“Pengen sih ke depannya punya usaha jahit sendiri. Pengen punya karyawan. Sekarang kan masih ikut saudara. Semoga saja terkabul niat baik ini,” harapnya.

Prinsip hidup Paijo sedehana, yang penting kerja dapat uang, bisa mandiri, bahagiakan orang tua di kampung.

“Prinsip saya kerja apa saja. Enggak minta duit ke orang tua. Jangan menyusahkan orang lain, apalagi orang tua,” tutup Paijo.

( Dede Rosyadi )

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini