Menelusur Jejak Sejarah Siskamling, Dari Kentongan hingga Patroli Modern

infobekasi.co.id – Warga Bekasi, kegiatan Siskamling mulai digencarkan kembali. Namun, jauh sebelumnya ronda keliling ini sudah ada sejak zaman dulu. Nah, yuks kita simak ulasannya. Siskamling, bisa dibilang warisan berharga menempati posisi unik antara kearifan komunitas dan kebutuhan keamanan modern.

Dari kentongan dan ronda tradisional, melalui fase kolonial (kampung wacht), hingga program tersistematiskan pada era modern, Siskamling menunjukkan kemampuan masyarakat Indonesia dalam menjaga ruang publik secara kolektif.

Di era sekarang, jika dikelola dengan baik, mengedepankan koordinasi dengan aparat, pelatihan, dan prinsip hukum, Siskamling tetap relevan sebagai penguatan rasa aman, persaudaraan, dan gotong royong. Siskamling, atau Sistem Keamanan Lingkungan, adalah wujud nyata gotong royong masyarakat dalam menjaga keamanan lingkungan.

Praktik ini melibatkan pos ronda, patroli malam, dan pengawasan bersama, akarnya telah tertanam jauh dalam tradisi Nusantara. Dari pengawasan kampung hingga bunyi kentongan, Siskamling merupakan upaya kolektif menjaga keamanan terus beradaptasi dengan zaman.

Akar Tradisional Siskamling

Jauh sebelum adanya negara modern, masyarakat desa di Nusantara telah memiliki mekanisme pengamanan sendiri. Kentongan menjadi alat komunikasi utama, ronda malam dilakukan secara bergilir, dan sistem jaga kampung diterapkan untuk mengusir gangguan alam maupun ancaman manusia. Tradisi ini seringkali terkait dengan ritual komunitas seperti sedekah bumi dan bebaritan, juga memiliki fungsi keamanan praktis. Pos ronda kecil di kampung menjadi pusat koordinasi warga jika ada hal mencurigakan.

Siskamling di Masa Kolonial

Pada masa kolonial Belanda, praktik jaga malam diorganisir melalui regulasi yang mendorong kepala desa atau pejabat lokal untuk membentuk kampung wacht (jaga kampung). Catatan administratif menunjukkan, bahwa teknik pengorganisasian keamanan kampung telah ada sejak awal abad ke-20. Istilah kampung wacht mencerminkan peran warga sipil dalam pengamanan lokal pada masa itu, kemudian menyatu dengan tradisi ronda lebih tua.

Formalisasi Modern di Era 1980-an

Meskipun praktik ronda dan pos kamling terus hidup di berbagai wilayah, bentuk institusional disebut Siskamling mulai dikampanyekan secara lebih sistematis pada era modern. Sekitar tahun 1981, program pengamanan swakarsa digalakkan di level kepolisian nasional pada masa jabatan Kapolri Awaloedin Djamin. Program ini menempatkan warga sebagai pelaksana keamanan lingkungan dengan dukungan aparat. Sejak saat itu, banyak pos kamling resmi didorong terbentuk di kota dan desa sebagai bagian dari upaya pencegahan kejahatan.

Fungsi dan Mekanisme Siskamling

Fungsi utama Siskamling tetaplah mencegah dan melaporkan tindak pidana, melakukan patroli atau ronda malam, serta menjaga ketertiban publik. Pelaksanaannya beragam, mulai dari giliran ronda tiap RT, patroli bersama dengan Babinkamtibmas/Babinsa, hingga penggunaan pos ronda sebagai tempat silaturahmi. Siskamling sering dikaitkan dengan nilai bela negara, yaitu keterlibatan warga dalam menjaga wilayahnya sendiri.

Sempat Vakum, dan Bangkit Kembali

Siskamling mengalami pasang surut seiring berjalannya waktu. Di beberapa periode, partisipasi warga melemah karena mobilitas, perubahan gaya hidup, dan persepsi keamanan mengandalkan polisi profesional. Namun, belakangan ini muncul upaya untuk menghidupkan kembali Siskamling, terkait dengan peningkatan kejahatan kecil, kebutuhan solidaritas sosial pasca-pandemi, dan inisiatif pemerintah daerah atau Kementerian Dalam Negeri untuk mendorong partisipasi masyarakat. Beberapa pejabat menempatkan pengaktifan kembali Siskamling sebagai strategi pencegahan gangguan kamtibmas dan penguatan gotong royong.

Tantangan dan Adaptasi ke Era Modern

Tantangan utama Siskamling meliputi penurunan partisipasi warga, kurangnya pelatihan dan koordinasi konsisten, serta risiko tindakan main hakim sendiri jika peran warga tidak selaras dengan aparat penegak hukum. Untuk itu, model modern sering menekankan sinergi antara Siskamling sebagai early warning system dan penguatan komunikasi dengan polisi. Pemanfaatan teknologi seperti grup chat RT dan CCTV komunitas juga menjadi bagian dari adaptasi Siskamling di era modern. Program pelatihan tentang prosedur pelaporan dan keselamatan petugas ronda juga penting untuk diperhatikan.

Nah, kalian sudah tahu kan sekarang perjalanan Siskamling dari masa ke masa hingga mulai dibangkitkan dan digencarkan kembali sekarang ini.

Dede Rosyadi

#Siskamling #Infobekasi #Ronda #Bekasi

Data: Dari Berbagai Sumber

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini