Skip to content

Kedai Kobra Agus di Bekasi, Dari Hobi Jadi Usaha Masuk Pasar Luar Negeri

Infobekasi.co.id – Di tengah kemajuan industri dan perdagangan di Kota Bekasi, seorang warga berusia 61 tahun, Agus Wanto, menjalankan usaha yang unik dilakoni bertahan puluhan tahun, membuka Kedai Kobra. Ia menggabungkan pengobatan alternatif dan kuliner berbahan dasar ular. Semuanya berawal dari hobi yang dimiliki sejak masa kanak-kanak, hingga kini berkembang menjadi usaha dikenal luas, bahkan hingga ke luar Jawa.

“Sebenarnya berangkat dari hobi. Dari kecil saya suka hunting nyari ular, lama-lama berkembang sampai akhirnya saya geluti usaha ini,” tutur Agus saat ditemui di Mustika Jaya, Kota Bekasi, Senin (29/12) kemarin.

Agus telah bergelut di bidang ini selama hampir 20 tahun. Sebelum menetap di lokasi kini di Jl. Mandor Demong, RT.3/RW.05, Mustikasari, Kecamatan Mustika Jaya, Kota Bekasi, Ia sempat berjualan berpindah-pindah di pinggir jalan di kawasan Mangga Besar, Jakarta. Sebelum menemukan jalur di usaha ini, Agus juga pernah mencoba berbagai pekerjaan dan usaha lain dengan proses jatuh bangun yang tidak mudah.

“Perjalanan ini tidak semudah itu, tapi karena saya suka apa yang saya kerjakan, saya tetap bertahan,” katanya.

Kedai Kobra bukan sekadar tempat makan. Selain menyajikan beragam menu kuliner seperti sate ular, sate biawak, tongseng ular, rica-rica ular, sop ular, dan kobra goreng, tempat ini juga menawarkan pengobatan alternatif dengan bahan utama ular kobra.

Darah dan empedu kobra diracik menjadi ramuan yang diklaim efektif untuk mengobati penyakit kulit. Sistem pelayanan pun unik; pengunjung biasanya berobat sekaligus makan, di mana ular akan dipotong secara langsung, darah dan empedu diambil untuk ramuan, sedangkan dagingnya dimasak sesuai pilihan menu.

“Kebanyakan pelanggan datang karena masalah kesehatan kulit, karena khasiat kobra untuk hal ini sudah cukup dikenal di kalangan masyarakat,” jelas Agus

Pelanggan datang dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat biasa hingga kalangan atas, bahkan banyak yang melakukan perjalanan dari luar daerah seperti Sumatra, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

Stok ular kobra yang digunakan diperoleh dari beberapa daerah di Jawa Tengah seperti Cilacap, Kebumen, dan Purworejo. Kedai beroperasi setiap hari mulai Senin hingga Minggu, pukul 10.00-22.00 WIB, meskipun terkadang harus tutup ketika Agus memenuhi panggilan sebagai pawang ular.

Ia mengakui telah beberapa kali tergigit ular berbisa seperti kobra dan king kobra selama bekerja. “Oleh karena itu, saya selalu berhati-hati dan tidak pernah menganggap pekerjaan ini sebagai hal sepele. Fokus adalah kunci utama,” tegasnya.

Untuk harga harga, Agus mempertimbangkan ketersediaan bahan, makin langka ular yang didapat, maka makin mahal ular tersebut. Kompetitor usaha sejenis ini di Bekasi juga masih jarang, sebab dibutuhkan pengalaman yang khusus.

Selama menjalankan usaha, Agus merasa senang karena berangkat dari hobi, meski risikonya cukup besar. Selain keuntungan materi, Ia juga mendapatkan ilmu dan pengalaman berharga, termasuk mengembangkan serum antibisa ular serta menciptakan berbagai ramuan dan menu baru.

“Bagi saya, ular ibarat pohon kelapa, tidak ada bagian yang terbuang. Mulai dari kulit, daging, empedu, hingga lemak, semuanya memiliki manfaat dan nilai tersendiri,” ucap Agus.

Agus sangat optimistis usahanya bisa dikembangkan lebih luas, bahkan hingga ke luar negeri. Beberapa produk olahan seperti tepung kobra dan empedu sudah terbukti dapat menembus pasar internasional, antara lain ke Taiwan dan China.

(Adittiya Ramdani Saputra)

Editor : Deros

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *