Infobekasi.co.id – Tutik Anitasari, wanita berusia 31 tahun, menjadi salah satu korban dalam peristiwa tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi. Kepergiannya menyisakan duka mendalam, lantaran Tutik meninggalkan seorang putri yang masih keci, berusia 16 bulan.
“Ia memiliki satu orang anak perempuan yang usianya sekitar satu tahun lebih,” ungkap salah satu tetangga Tutik, Suprapto, saat ditemui pada Rabu, 29 April 2026.
Tutik berdomisili di Kompleks Depsos Blok D3 Nomor 2, Kelurahan Telaga Asih, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi. Ia dan suaminya, bernama Aji,melangsungkan pernikahan pada akhir tahun 2024. Selama dua tahun terakhir, mereka tinggal bersama orang tua sang suami di rumah kontrakan.
Sebagai wanita yang mandiri dan pekerja keras, Tutik bekerja sebagai staf di bidang kecantikan di salah satu pusat perbelanjaan kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Setiap harinya, Ia berangkat pukul 06.00 WIB dengan menaiki KRL dari Stasiun Telaga Murni, dan baru kembali ke rumah sekitar pukul 22.00 WIB.
“Ia memang bekerja di tempat kecantikan di Tebet, Jakarta Selatan,” ungkap Suprapto.
Di lingkungan tempat tinggalnya, Tutik dikenal sebagai sosok yang ramah dan sopan kepada siapa saja, meski dirinya cenderung pendiam dan tidak banyak bicara. Mendengar kabar musibah yang menimpanya, Suprapto mengaku sangat terkejut dan tak menyangka hal seberat itu akan menimpa tetangganya yang baik hati.
“Saya benar-benar kaget dan tidak menyangka sama sekali. Dia orangnya ramah, selalu menyapa setiap kali bertemu di jalan,” kenang Suprapto.
Perasaan yang sama juga dirasakan oleh Sri Untung, warga lainnya yang sudah mengenal Tutik cukup lama. Ia menceritakan betapa besar kasih sayang ibu muda itu terhadap anak semata wayangnya. Padahal hanya memiliki waktu libur satu hari dalam seminggu, namun Tutik tak pernah melewatkan kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama dang anak.
“Kalau lagi libur, dia selalu bawa anaknya main ke luar rumah, sering banget menggendong dan menemaninya bermain,” kenang Sri.
Kenangan yang tak terlupakan muncul saat pertemuan terakhir mereka pada Minggu, 26 April 2026. Hari itu, Sri melihat ada perubahan sikap pada diri Tutik. Ia terlihat lebih pendiam, dan berkali-kali mencium kening putrinya dengan perasaan yang begitu dalam. Ketika disapa, Tutik hanya membalas dengan senyum tipis yang terlihat menyimpan perasaan yang tak terungkap.
“Waktu itu dia duduk di depan warung saya, terus mencium anaknya berkali-kali, seolah-olah tak ingin berpisah. Sampai tetangga lain sempat berkomentar, karena lihat dia terus-terusan mencium anaknya,” kata Sri dengan nada sedih.
Tak disangka, pertemuan itu menjadi yang terakhir. Dua hari kemudian, tepatnya Senin malam, 27 April 2026, musibah terjadi dan merenggut nyawa Tutik. Sebagai tetangga yang sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri, Sri merasa sangat kehilangan dan tak kuasa menerima kenyataan ini.
“Ya Allah, Nita (Tutik). Kenapa kamu pergi begitu cepat?. Sering banget pas saya bangun tidur, saya teringat wajah dan senyummu. Rasanya masih jelas sekali terbayang,” ucap SriĀ sambil menahan haru.
Jenazah Tutik sempat ditangani pihak Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, sebelum dibawa pulang pada Selasa malam, 28 April 2026. Pada Rabu pagi, jenazah dibawa ke kampung halaman keluarga di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah untuk dimakamkan.
(Fahmi)
Editor : D. Rosyadi






























