Infobekasi.co.id – Pemerintah resmi membentuk Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren di lingkungan Kementerian Agama. Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 18 Tahun 2026 tentang Susunan Organisasi Kementerian Agama, di mana status kelembagaan pesantren ditingkatkan dari sebelumnya setingkat direktorat menjadi unit eselon I.
Merespons kebijakan tersebut, Persaudaraan dan Kemitraan Pesantren (PK-Tren) Indonesia menyampaikan apresiasi kepada Presiden RI Prabowo Subianto dan Menteri Agama, Nasaruddin Umar. Pihaknya menilai, perubahan struktur organisasi ini menjadi tonggak sejarah penting bagi dunia pendidikan berbasis pesantren di Indonesia.
Ketua Umum PK-Tren Indonesia, Assoc. Prof. Dr. KH. M. Ilyas Marwal, menyebut, kehadiran Ditjen Pesantren sebagai bukti perhatian negara terhadap keberadaan pesantren yang telah lama menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional dan warisan peradaban Nusantara.
“Ini bukan sekadar perubahan struktur kelembagaan, melainkan bentuk pengakuan negara terhadap pesantren yang selama ini memiliki kontribusi bagi bangsa dan negara,” ujar Ilyas dalam acara Halaqah Nasional V Pimpinan Pesantren se-Indonesia di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Senin pekan lalu.
Menurut penjelasannya, peningkatan status kelembagaan ini diharapkan menjadi dasar yang lebih kuat dalam hal pembinaan, tata kelola, serta pengembangan masa depan pesantren di seluruh Indonesia.
“PK-Tren menyampaikan terima kasih atas lahirnya Ditjen Pesantren. Pesantren merupakan warisan pendidikan Nusantara yang menjaga nilai agama dan kebangsaan,” tambahnya.
Dalam pandangan organisasi tersebut, pesantren memiliki catatan sejarah panjang dalam melahirkan tokoh-tokoh bangsa, mulai dari KH. Hasyim Asy’ari, H.O.S. Tjokroaminoto, KH. Agus Salim, hingga Presiden keempat RI, KH. Abdurrahman Wahid. Selain itu, pesantren juga dikenal melahirkan ulama berreputasi internasional seperti Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Kholil Bangkalan, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, dan Syekh Mahfudz at-Tarmasi.
“Pesantren tidak hanya tempat belajar agama, tetapi menjadi pusat lahirnya ilmu pengetahuan, akhlak, dan peradaban bangsa,” kata Ilyas.
Di era saat ini, lanjutnya, pesantren juga terus mengalami perkembangan. Banyak lulusan pesantren yang kini berkiprah di berbagai sektor, mulai dari akademik, teknologi, ekonomi, hingga kepemimpinan publik, serta mampu bersaing di tingkat internasional.
Oleh karena itu, keberadaan Ditjen Pesantren diharapkan dapat mengarahkan pembangunan lembaga pendidikan tersebut agar tetap adaptif terhadap kemajuan zaman, namun tidak meninggalkan identitas keislaman dan keindonesiaannya.
PK-Tren berharap, langkah pemerintah ini dapat menjadi momentum penguatan pesantren dalam membangun sumber daya manusia, menjaga nilai moral, serta memperkuat peradaban Indonesia.
“Pesantren diharapkan tetap menjadi pusat pembentukan karakter, penjaga nilai kebangsaan, dan rumah pendidikan moral bangsa,” pungkasnya.
(DR)





























