Tengari Uweng-Uweng, Istilah Warga Bekasi Saat Terik Matahari Menyengat
infobekasi.co.id – Di tengah cuaca ekstrem dan terik matahari yang menyengat wilayah Bekasi belakangan ini, istilah lokal kembali muncul di tengaj masyarakat. Warga Bekasi kerap menyebut kondisi siang bolong sangat panas ini dengan sebutan, Tengari Uweng-Uweng.
Bagi masyarakat perkotaan dan kaum urban istilah ini mungkin terdengar asing, namun bagi masyarakat lokal Akamsi (Anak Kampung) Bekasi, Betawi Ora, frasa tersebut adalah kosakata yang sangat akrab menggambarkan puncak panas di siang hari.
Berdasarkan penelusuran literatur budaya lokal, termasuk Kamus Istilah Betawi, frasa ini terbentuk dari dua kata yang memiliki makna visual sekaligus sensorik. Kata tengari berasal dari tengah hari, merujuk pada waktu saat matahari tepat berada di atas kepala, biasanya sekitar pukul 11.30 hingga 13.30 WIB. Sedangkan uweng‑uweng merupakan kata penggambaran sensasi pusing berputar, rasa kepala kliyengan, pandangan berkunang‑kunang, hingga efek riak udara panas di atas permukaan aspal. Jika digabungkan, jadi tengari uweng‑uweng, dimana kondisi siang hari yang sangat terik dan menyengat, hingga mampu membuat kepala terasa pening.
Saat musim kemarau atau kulminasi matahari, frasa ini kerap bermunculan di media sosial sebagai keluhan jenaka warga, misalnya ungkapan, “Bringsang, ngelekep bener cuaca tengari uweng‑uweng gini, bikin puyeng”.
Pakar budaya mencatat, istilah ini bringsang bagian dari dialek Betawi Ora yang mendapat pengaruh kuat bahasa Jawa. Bertahannya istilah ini membuktikan warga Bekasi tetap merawat identitas bahasa di tengah arus modernisasi.


