Kisah Putra Pengetik Teks Proklamasi Sayuti Melik: Dari hidup Mapan di Kanada hingga ke Bekasi
Infobekasi.co.id – Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia diketik oleh tokoh pergerakan Sayuti Melik. Namun tak banyak yang tahu kisah putra kandungnya, Heru Baskoro (84), yang sempat menjalani sisa masa tuanya dalam keterbatasan di sebuah kontrakan sempit di Kota Bekasi, sebelum akhirnya mendapatkan pertolongan.
Heru lahir di Semarang, 1 Juni 1942, dari pasangan Sayuti Melik dan Surastri Karma Trimurti. Ia tumbuh di lingkungan keluarga para pendiri bangsa, mengenal sosok ayahnya yang sangat disiplin dan teguh memegang aturan negara. Di masa kecilnya, Ia masih ingat jelas momen bermain gundu bersama Megawati Soekarnoputri, putri Presiden Soekarno.
Heru tumbuh menjadi pria berpendidikan tinggi dan sukses berkarier sebagai akuntan profesional. Sekitar tahun 1998, Ia memegang status penduduk tetap (Green Card) di Amerika Serikat, kemudian menetap puluhan tahun di Kanada bersama istrinya, Treyzia Noviani (65). Hidup mereka sangat mapan dan tabungan masa tua pun terjamin.
Nasib berubah drastis saat Heru menderita komplikasi diabetes yang menyerang organ penglihatannya. Mata kanannya kini buta total, sedangkan mata kiranya hanya bisa melihat samar.
Biaya pengobatan yang sangat mahal membuat seluruh aset dan tabungan yang dikumpulkan puluhan tahun terkuras habis. Pada tahun 2024, dalam kondisi sakit dan keuangan kosong, mereka memutuskan pulang ke Tanah Air.
Sesampainya di Indonesia, mereka harus menghadapi kenyataan pahit. Hidup serba kekurangan membuat mereka berpindah-pindah tempat tinggal.
Empat bulan sebelum dievakuasi, mereka menyewa kontrakan dua petak di Jalan Cipendawa Baru, RT 002/RW 003, Kelurahan Bojong Menteng, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi. Di sana mereka tidak memiliki kasur dan hanya tidur di atas karpet plastik tipis. Kebutuhan makan sehari-hari pun sering mengandalkan bantuan dari tetangga yang merasa iba.
Meski hidup dalam kesulitan, Heru tetap menitipkan pesan mendalam bagi generasi muda, agar hidup disiplin, menjaga persatuan serta menjadi warga negara yang baik.
“Selalu taati hukum, hidup disiplin tinggi, dan jaga kemerdekaan yang diperjuangkan pendahulu kita dengan darah dan air mata,” ucap Heru, dikutip, Kamis (16/7/26).
Sejak Senin (13/7/2026), Heru Baskoro telah dipindahkan dari kontrakan ke Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL), Bekasi Timur. Di lokasi baru, Ia mendapatkan hunian layak serta perawatan medis dari Kementerian Sosial guna mengatasi penyakit diabetes dan gangguan penglihatannya.
(ded)


