Skip to content

Kobakan: Cara Warga Bekasi Lama Menaklukkan Tantangan Musim Tanpa Teknologi

Infobekasi.co.id – Bagi generasi muda saat ini, istilah “kobakan” mungkin terdengar asing. Namun bagi warga asli Bekasi khususnya, sebelum perkembangan kota pesat seperti sekarang ini, lubang galian berisi air di pekarangan adalah pemandangan yang biasa.

Keberadaannya bukan kebetulan, melainkan kearifan lokal yang memiliki fungsi sangat penting bagi kehidupan sehari-hari warganya pada zaman itu. Kalau sekarang?

Salah satu yang masih mengingatnya adalah Zaronah (86 tahun), warga asal Setia Asih, Tarumajaya, Kabupaten Bekaai. Ia menceritakan, dulu dirinya memiliki beberapa kobakan alam mau pun buatan (bekas galian tanah). Kobakan ini berfungsi sebagai cadangan air saat musim kemarau, dan pelihara ikan gurame dan lele.

“Kita memang kudu punya kobakan. Kan orang dulu mah tanah-nya masih pada lebar. Selain menampung air saat kering, juga untuk menyiram tanaman. Ada juga yang dipelihara ikan. Ikan itu bukan untuk dijual, tapi sangat berguna kalau tidak ada persediaan lauk buat keluarga,” ujar Zaronah kepada infobekasi, Senin (20/7/26)

Warga zaman dulu memahami pergantian musim meski tanpa teknologi canggih, sehingga sudah bersiap sejak dini menghadapi perubahan cuaca.

“Ora khawatir (tidak panik). Saat kemarau ada persediaan air, saat hujan air tertampung, rumah pun tidak kebanjiran. Air tinggal nimba diember,” kenangnya.

Sebelum ada jaringan pipa air bersih dan sumur bor, warga sepenuhnya bergantung pada alam. Kobakan sengaja digali sebagai wadah penampung air hujan dan resapan air tanah. Air yang tertampung di dalamnya dimanfaatkan warga untuk keperluan sehari-hari seperti mandi, mencuci, hingga menyiram tanaman.

Mayoritas warga Bekasi tempo dulu berprofesi sebagai petani. Kobakan yang berukuran agak besar kerap dialihfungsikan menjadi empang mini untuk budidaya ikan konsumsi seperti mujair dan lele. Selain itu, kobakan juga menjadi tempat memandikan hewan ternak seperti kerbau atau bebek.

Sebagian besar wilayah Bekasi dahulu berupa sawah tadah hujan, sehingga ketersediaan air menentukan hasil panen. Kobakan berfungsi sebagai cadangan pengairan. Ketika pasokan air dari sungai menyusut saat kemarau, warga menggunakan air dari kobakan untuk mengairi sawah agar terhindar dari gagal panen.

Kobakan masih banyak terlihat di perkampungan Bekasi sepanjang tahun 1980 hingga akhir 1999. Kini seiring pesatnya pembangunan, lahan banyak berubah menjadi perumahan dan kawasan industri, sehingga keberadaan kobakan perlahan lenyap tertutup beton.

“Sekarang kalau kemarau banyak yang mengeluh kekeringan, kalau hujan mengeluh kebanjiran. Ya memang begitu, lahannya sudah habis dijual jadi perumahan, mau dikata apa,?” tandas Zaronah.

Jejak keberadaan kobakan menjadi bukti, bagaimana masyarakat Bekasi terdahulu mampu beradaptasi dan hidup selaras dengan alam. Bagaimana di tempat kalian, apa masih ada kobak ?

Foto: Cluster Parma/InfobekasiOfficial

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *