Skip to content

Menjaga Kewarasan di “Planet Bekasi”

Infobekasi.co.id – Bagi orang di luar sana, Bekasi mungkin sekadar bahan lelucon atau meme tentang “planet lain” yang bersuhu ekstrem. Namun bagi warga Bekasi yang saban hari melintasi aspal setiap hari, hidup di Bekasi sepanjang Juli 2026 ini bukan lagi soal guyonan, melainkan ujian nyata terhadap batas paling akhir dari kewarasan manusia.

Menjalani hari-hari di kota dan kabupaten Bekasi ini terasa seperti mengarungi labirin persoalan yang datang bertubi-tubi. Dari hulu lingkungan hingga hilir ekonomi, warga dipaksa memendam kekecewaan dalam-dalam, sekaligus tetap dituntut produktif agar dapur terus mengepul.

Ujian pertama datang dari alam yang diperparah kelalaian manusia. Memasuki puncak kemarau, pemandangan memilukan terlihat di Kali Bekasi, air menyusut hingga titik terendah, dan bukannya tampak asri, surutnya air justru menelanjangi borok lingkungan, tumpukan sampah plastik dan endapan lumpur hitam mencuat, air berbusa, menebar bau tak sedap yang mengganggu warga setiap saat. Gangguan ini sempat memaksa BPBD menyalurkan bantuan air bersih ke pemukiman.

Bergeser ke utara, jeritan petani terlihat jelas. Data per akhir Juli 2026, tercatat sekitar 2.592 hektare lahan pertanian di Kabupaten Bekasi kering kerontang, dan 75 hektare di antaranya sudah terdampak langsung kekeringan, terutama di wilayah Pebayuran dan sekitarnya. Saluran irigasi mendangkal membuat sawah retak membelah, memaksa upaya normalisasi darurat dan bantuan pompa. Petani sedang bertaruh nyawa di tanah yang tandus, sementara ketahanan pangan masa depan ikut dipertaruhkan.

Di jalan raya, ceritanya terasa lebih berat. Ingatan kita masih segar pada kemacetan parah Senin pagi (27/7/26) di perempatan Jembatan Besi, Karang Satria menuju Teluk Pucung. Jalur vital itu lumpuh total, tertutup lautan kendaraan yang tak bergerak. Kalimat warga, “satu jam setengah ora geser”, dan “berdamai dengan keadaan”, bukan sekadar keluhan, melainkan puncak kejenuhan dan kepasrahan.

Ironisnya, demi menjaga kewarasan, sejumlah pengendara justru memilih mematikan mesin, bersandar duduk di motornya sembari pasrah menunggu kemacetan terurai, bahkan ada yang menyeduh kopi di tengah jalan sambil berdoa diberikan ketabahan dan keikhlasan.

Pihak Dishub menyebut, penyebab kemacetan akibat jam sibuk kerja, bermacam aktifitas warga, anak berangkat sekolah, dan adanya proyek Lingkar Utara. Namun bagi warga, terjebak berjam-jam adalah bentuk hilangnya waktu yang direnggut buruknya tata kelola transportasi.

Kusutnya jalanan makin terasa dengan debu semen sisa coran cukup tebal di Jalan Tegal Danas, rekayasa arus lalu lintas di beberapa titik ruas jalan Bekasi yang diperkirakan berlangsung berbulan-bulan.

Belum lagi ancaman pembakaran sampah ilegal yang kerap terjadi di sepanjang Jalan Mutiara Gading City, Babelan, dan cekcok antar tetangga di permukiman warga Teluk Pucung, gegara pembakaran sampah di tanah petakan kebun.

Kepulan asap pekatnya tak sekadar mengganggu pandangan bagi pengguna jalam, juga meracuni udara yang dihirup berdampak pada penyakit Inpeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Menjaga kewarasan kini bukan sekadar soal sabar. Kita dipaksa punya ketahanan luar biasa, tetap berdiri tegak meski dihajar masalah dari segala arah.

(Dede Rosyadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *