Peran Orang Tua Agar Anak Terhindar Dari LGBT

Kian meroketnya angka LGBT ( Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender ) di kalangan generasi, menjadi keperihatinan juga kewaspadaan kita sebagai orang tua di era digital saat ini.Tak bisa dipungkiri, LGBT ini bagaikan fenomena gunung es, yang kian hari pelakunya semakin massif,apalagi kini semakin massif menjangkiti generasi,yakni remaja dan anak – anak.

Mengutip dari kpi.go.id, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Sitti Hikmawaty, mengatakan, kasus kejahatan seksual sesama jenis pada anak kian mengkhawatirkan dimana angka kasus tersebut terus meningkat tajam.Seperti di Tangerang dengan korban sebanyak 41 anak.

Merujuk pada data KPAI pada tahun 2014 hingga 2015, pengaduan soal anak yang menjadi korban LGBT tidak ada. Namun, pada tahun 2016 mulai muncul 7 pengaduan. Sedangkan pada 2017 angka ini menjadi 23 pengaduan. Angka ini meningkat lagi menjadi 25 pengaduan pada 2018.

Penulis mengutip data Pemerintah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, resah saat Dinas Kesehatan (Dinkes) merilis informasi soal pendataan 498 gay yang tersebar di tujuh kecamatan mereka. Lebih dari setengahnya baru berusia 11 sampai 20 tahun. Data ini dikonfirmasi Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Dinkes Tulungagung Didik Eka.

LGBT Merusak Generasi

LGBT ( Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender ) adalah penyimpangan prilaku yang begitu merusak generasi termasuk anak – anak. Bahkan kini semakin ironis menyasar anak – anak baik secara langsung maupun melalui media buku dan film. Diantaranya adalah film my little ponny sebagaimana pernyataan yang disampaikan oleh penulis dan produser, Michael Vogel pada episode The Last Crusade dari film kartun My Little Pony: Nicole and I thought this was a great opportunity to organically introduce an LGBTQ couple in the series, and we asked Hasbro and they approved it.’’ (Michael Vogel).

Sebuah film yang mengisahkan pertemanan enam karakter perempuan, produksi Hasbro Studios Amerika Serikat. Seperti dilansir situs daring People, episode ini memperkenalkan Aunt Holiday and Auntie Lofty sebagai pasangan lesbian yang merawat karakter Scootaloo.

Di Indonesia, film ini sudah mulai tayang sejak tahun 2016 melalui salah satu televisi nasional. Dan dalam Tampilan visual yang didominasi warna pastel berhasil melahirkan interaksi secara intensif antara anak-anak dan tayangan ini. Dampak LGBT, ini jelas merusak moral generasi termasuk anak – anak. Menjadikan penyimpangan prilaku pada anak juga menjadikan orientasi seks yang keliru yang bertentangan dengan fitrah manusia.

Selain itu secara kesehatan, LGBT menyebabkan salah satu penyumbang tingginya angka HIV AIDS di Indonesia. Umumnya, para LGBT memiliki gaya hidup seks bebas dengan banyak orang sehingga kecenderungan terkena virus HIV/ AIDS sangat tinggi. Mengutip jpnn.co.id bahwa Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Timur sempat menyebut bahwa di Kabupaten Madiun diduga teridentifikasi ada sekitar 1.400 orang dengan HIV/AIDS (ODHA).Dan diantara pelakunya adalah pelaku homoseksual.

Faktanya tidak hanya pada aspek pada kesehatan, LGBT juga mempengaruhi pendidikan seseorang. Sebab faktanya, seorang LGBT memiliki permasalahan putus sekolah 5 kali lebih besar dibandingkan dengan siswi atau siswa normal.Dan juga dampak keamanan adalah banyaknya pelecehan seksual pada anak – anak sebab massifnya LGBT.

Peran Orang Tua Agar Anak Terhindar Dari LGBT

Peran orang tua sangatlah penting agar anak – anak terhindar dari LGBT yang merusak moral generasi. Orang tua sebagai madrasah pertama bagi anak, juga sebagai role model bagi anak menjadi benteng bagi anak agar anak jauh dari LGBT. Menurut penulis, tugas orang tua agar anak terhindar dari LGBT adalah :

1. Membekalkan pondasi agama yang kuat pada anak. Karena iman dan takwa menjadi bekal utama bagi anak menghadapi arus era digital yang massif dengan hegemoni pergaulan bebas termasuk LGBT.

2.Sinergis Pengasuhan Ayah dan Bunda.Menghadapi tantangan pengasuhan dan problematika yang beragam, maka peran sinergis pengasuhan ayah dan bunda harus solid dan mampu menjadikan ayah dan bunda sebagai sahabat anak. Mampu memahami psikologi anak dan bersikap bijak terhadap anak. Sehingga menjadikan anak memahami bahwa ayah dan bundanya adalah tempat terbaik bagi mereka untuk berbagi kisah,kondisi dan meminta solusi.Juga dengan sinergis ini,akan memunculkan bonding kuat antara ayah bunda dengan ananda hingga menjadi benteng agar anak tidak terjerumus pada LGBT.

3. Memantau Pergaulan dan Memilihkan Lingkungan Yang Baik Bagi Anak.Tak bisa dipungkiri bahwa saat ini tugas berat dalam memantau pergaulan anak harus di lakukan oleh orang tua, apalagi semakin anak tumbuh dewasa orang tua tidak bisa serta merta ikut mengawasi anak. Namun bila anak masih dalam tahapan masa bermain, usia golden age maka orang tua penting melakukan pengawasan intensif atas pergaulan anak dengan teman sebaya, juga memilihkan lingkungan dan sekolah yang baik.Bagi anak yang telah menginjak remaja maka orang tua bisa bersinergis dengan guru dan sekolah untuk berperan aktif dalam memantau pergaulan anak.Karena massifnya hegemoni LGBT maka,semakin protect juga orang tua kepada anak sebagai upaya yang perlu dilakukan pada anak.

4. Memberikan informasi edukasi dan pengarahan dengan pondasi agama agar menjauhi perilaku menyimpang LGBT.Hal ini menurut penulis penting, memberikan informasi dan edukasi sejak dini dengan bahasa yang sederhana sesuai milestone anak agar anak mampu menjauhi LGBT. Dan menyampaikan bahwa perilaku LGBT adalah perliaku yang bisa merusak masa depan anak termasuk menyebabkan rusaknya kesehatan dan terjangkiti HIV AIDS.

5. Menghindarkan anak dari Gadget juga tayangan – tayangan yang mendukung LGBT serta bacaan yang mendukung LGBT.Banyak fakta yang terjadi dengan anak mengakses gadget pada akhirnya anak mampu mengakses beragam informasi dan banyak sekali tayangan yang seronok dan menampilkan dukungan terhadap LGBT melalui kanal youtube dll. Seperti tayangan kartun “The Little Ponny”, frozen dll juga bacaan yang kini menyisip pada edukasi pro LGBT.

Maka menurut penulis anak – anak memaximalkan masa golden age anak dengan membuat bonding yang kuat antara anak dan orang tua dengan pembelajaran fun learning atau aktifitas kegiatan edukatif jauh lebih bermanfaat ketimbang anak diberikan gadget yang mampu menghambat perkembangan tumbuh kembangnya.Selain itu persoalan LGBT yang kian meroket dan mampu merusak generasi adalah menjadi peran aktif dan keseriusan pemerintah dalam menyelesaikan persoalan LGBT.

Oleh : Hardita Amalia, S.Pd.I., M.Pd.I

( Mom of Two,Dosen, Penulis Buku Anak Muda Keren Akhir Zaman Qibla Gramedia, Peneliti dan Anggota Asosiasi Dosen Peneliti Ilmu Keislaman Sosial Nasional ,Konsultan Parenting, Pemerhati Pendidikan, Founder Sekolah Ibu Pembelajar ).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini