Rumah Gedong di Pebayuran, Jejak Kolonial hingga “Petilasan” Soekarno
Infobekasi.co.id – Di Pebayuran,Kabupaten Bekasi, berdiri bangunan rumah gedong berusia hampir seabad menyimpan nilai sejarah masa kolonial hingga detik-detik menuju kemerdekaan, menurut informasi, pemiliknya seorang tuan tanah di Pebayuran pada masa penjajahan Belanda.
Wilayah ini konon dulu dilalui dan dihuni saudagar asing yang membangun kediaman megah milik para landheer atau tuan tanah, kemegahan yang sayangnya lahir dari keringat dan penderitaan kerja paksa kaum pribumi.
Secara arsitektural, bangunan ini mengusung gaya Art Deco khas awal abad ke-20, berpadu dengan nuansa budaya Tionghoa. Ciri khasnya tampak pada ornamen geometris melengkung dan bentuk kubistik di bagian beranda depan, tembok berwarna cerah, serta atap menggunakan genting tanah liat yang juga berwarna terang. Keseluruhan bangunan menempati lahan seluas sekitar 1.000 meter persegi.
Terdapat prasasti, rumah ini dibangun oleh Frederici, seorang pejabat pemerintah kolonial Belanda, yang juga mencantumkan nama Catharina, diperkirakan kerabat atau orang terdekatnya.
Dari beberapa sumber mengatakan, rumah ini pernah disinggahi Presiden Soekarno saat peristiwa penculikan menjelang pembacaan Proklamasi, sebelum kemudian dibawa ke Rengasdengklok, Karawang.
Di tempat ini, Sang Proklamator sempat memberikan arahan dan semangat perjuangan kepada para pejuang setempat.
Kini, bangunan yang masih kokoh berdiri itu beralih fungsi sebagai Kantor Seksi Polisi (Polsek) Pebayuran sekaligus ruang pertemuan warga.
Foto:Ari/infobekasi
(ded)


