Skip to content

Keseimbangan Alam Terenggut, Refleksi Anomali Cuaca di Tengah Iklim Esktrem

infobekasi.co.id – Pepatah lama mengatakan segala sesuatu yang berlebihan tak pernah berujung baik. Ini bukan sekadar kata bijak, melainkan hukum alam mutlak kita rasakan hari ini. Fenomena cuaca ekstrem di sekitar kita, saat hujan turun tanpa henti, daratan banjir. Jika kemarau berlarut, tanah pecah dan kekeringan melanda.

Ketiadaan keseimbangan ini kini dirasakan langsung warga Bekasi. Catatan data pemberitaan beberapa bulan ini, wilayah Bekasi menjadi saksi, bagaimana hilangnya prinsip moderasi alam membawa dampak.

Ribuan warga Kabupaten Bekasi sedang berjuang menghadapi krisis air bersih akibat kekeringan yang meluas. Namun di tengah kecemasan itu, anomali cuaca justru mendadak mengguyur hujan mulai dari Jatiasih hingga Bojong dan Klapanunggal, Kabupaten Bogor.

Belum lagi musim kemarau berkepanjagan, di beberapa titik lokasi yang ada di Bekasi, kerap terjadi kebakaran dan pembakaran sampah ilegal yang sangat sensitif terjadinya kobaran api menjalar ke permukiman penduduk juga beberapa kali menjadi polemik.

Rangkaian peristiwa yang kontras dalam waktu berdekatan ini mengirim pesan mendalam secara ekologis sekaligus spiritual. Hujan sangat dibutuhkan untuk menyambung kehidupan, namun berlebihan membawa kehancuran. Panas matahari menopang ekosistem, namun mematikan jika hadir tanpa jeda. Pembakaran sampah yang sembarangan jika tidak diawasi bakal menjadi petaka.

Alam sejatinya berjalan dalam harmoni, dan ketidakseimbangan yang terjadi di Bekasi adalah peringatan keras, bahwa tatanan tersebut sedang terganggu. Sebab itu pentingnya menjaga nalar kewarasan.

Dalam pandangan Al-Qur’an menegaskan, segala fenomena alam termasuk hujan, diturunkan dengan ukuran, batas, dan keseimbangan yang presisi. Allah SWT berfirman dalam Surah Az-Zukhruf ayat 11:

“Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur),” bunyi Surah Az-Zukhruf ayat 11.

Kata bi qadarin dalam ayat ini bermakna dengan takaran yang pas, terukur, dan tidak berlebih maupun kurang. Ketika takaran ini bergeser menjadi anomali ekstrem seperti yang terjadi saat ini, itu adalah tanda, siklus alam yang telah dirancang rapi sedang mengalami kerusakan serius.

Kondisi ini bukan terjadi begitu saja. Al-Qur’an juga mengingatkan dalam Surah Ar-Rum ayat 41, kerusakan yang tampak di darat dan di laut termasuk cuaca yang tak menentu berakar dari perbuatan tangan manusia.

Atas nama pembangunan dan kenyamanan, kita menebas ruang terbuka hijau, membeton seluruh area resapan, hingga mengotori atmosfer yang memicu perubahan iklim. Kita memaksa alam bekerja di luar batas kapasitasnya.

Merenungi kearifan alam dan petunjuk Ilahi, sudah saatnya kita kembali pada prinsip keseimbangan. Menjaga alam berarti tahu batas mengambil dan batas merawat. Keberlanjutan hidup tak pernah ada dalam ekstrem, baik kekeringan maupun banjir, melainkan pada titik tengah yang harmonis.

Mari kita perbaiki cara memperlakukan lingkungan, sebelum alam dengan caranya sendiri mengingatkan kita untuk berhenti melanggar batas. Tetap selalu menjaga nalar kewarasan.

(Dede Rosyadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *