Skip to content

Banyak Nyamuk Berkeliaran Malam Hari di Bekasi, ‘Pasukan Jumantik’ Susur Rumah Warga

Infobekasi.co.id – Tingginya populasi nyamuk yang kini mulai terasa mengganggu, bahkan berkeliaran hingga malam hari di berbagai wilayah Bekasi. Banyak aduan warga, saat malam hari di rumahnya banyak nyamuk.

Hal ini mendorong para Juru pemantau Jentik (Jumantik) di Bekasi ‘turun gunung’ ke permukiman warga, salah satunya di lingkungan RW 07, Kelurahan Kaliabang Tengah, Kecamatan Bekasi Utara, kembali menggalakan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J).

Langkah ini juga dilakukan sebagai upaya menyikapi tingginya angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Bekasi, tercatat mencapai 1.583 kasus sepanjang periode Januari-Mei 2026, dengan 3 kasus kematian. Kelompok usia produktif dan anak-anak menjadi yang paling rentan terdampak.

Kader Jumantik RW 07, Kampung Pengarengan, Kaliabang Tengah, Bekasi, Mashudi, menyampaikan, pemeriksaan bakal dilakukan secara bertahap ke setiap rumah-rumah warga.

Bagi warga yang rumahnya dipastikan bebas dari jentik nyamuk bakal ditempel stiker, “Rumah Bebas Jentik Nyamuk”, sebagai tanda sekaligus imbauan agar tetap menjaga kebersihan lingkungan.

“Adanya kegiatan ini, diharapkan warga senantiasa menjaga pola hidup sehat dan terhindar dari Demam Berdarah Dengue (DBD,” ucap Le Otong sapaan akrab Mashudi kepada infobekasi, Sabtu (14/8/26).

Pemeriksaan jentik akan berjalan sesuai jadwal di tiap RT. Kegiatan ini rencananya akan berlangsung selama tiga bulan.

Sebelumnya, pada awal Juli 2026, juga telah dilaksakan tahap kedua pemeriksaan yang berlangsung 6-11 Juli. Pengurus RT diminta mendampingi petugas sekaligus memastikan setiap wilayah melaksanakan kegiatan pengawasan dan pelaporan.

Kegiatan ini menjadi sangat penting, mengingat banyaknya keluhan warga yang merasa semakin banyak diganggu nyamuk, tak hanya di siang hari tetapi juga saat malam tiba.

Hal ini menjadi tanda, tempat perkembangbiakan nyamuk masih banyak tersembunyi di lingkungan pemukiman, sehingga pengawasan di setiap rumah melalui gerakan G1R1J menjadi kunci utama memutus rantai penularan penyakit DBD.

(ded)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *