Skip to content

Warga Kampung Ciranggon Gelar Babaritan, Plt Bupati Bekasi: Ini Tradisi Tak Boleh Dilupakan

Infobekasi.co.id – Ratusan warga memadati area persimpangan Jalan Raya Bojongsari-Cipayung menggelar ritual adat tahunan bertajuk “Babaritan” atau Sedekah Bumi.

Sedekah bumi ini diselenggarakan salah satu rangkaian memeriahkan hari jadi Kabupaten Bekasi yang ke-76 serta HUT ke-81 Republik Indonesia. Nuansa kebersamaan masih terasa kental di Kampung Ciranggon, Desa Cipayung, Kecamatan Cikarang Timur.

Beralaskan terpal di atas permukaan aspal, warga duduk melingkar memutari gunungan tumpeng bernuansa merah-putih, nasi kuning, aneka buah daerah, hingga ayam bekakak.

Momen kebersamaan ini menjadi cerminan eratnya solidaritas sosial dan kelestarian nilai lokal di tengah arus zaman (lokal wisdom).

Gunawan, tokoh masyarakat sekitar mengungkapkan, sedekah bumi ini merupakan wujud syukur berkala yang diwariskan secara turun-temurun dari para leluhur.

“Kegiatan tahunan sedekah bumi ini digelar untuk merayakan HUT Kabupaten Bekasi ke-76 dan HUT RI ke-81. Tradisi ini dipelihara warga secara bergenerasi sejak dahulu hingga menjadi identitas kearifan lokal kita,” tutur Mbah Gun sapaan akrab Gunawan di Cikarang Timur, Selasa (18/8/26).

Mengenai pemilihan lokasi di persimpangan jalan, Mbah Gun menjelaskan alasannya, perempatan jalan menjadi titik kumpul warga dan sudah dilakukan sejak turun temurun.

“Sejak masa lalu, lokasi sedekah bumi konsisten dipusatkan di perempatan. Selain menjadi area kumpul warga, persimpangan tergolong rawan insiden kecelakaan, sehingga doa bersama digelar di sana demi memohon keberkahan dan keselamatan,” ucap Ia.

Terpisah, Plt Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja memberikan mengapresiasi atas konsistensi warga dalam merawat warisan budaya. Ia menekankan, momen berkumpul dan menyantap hidangan bersama ini memiliki makna kekeluargaan yang mendalam.

“Ini tradisi yang tak boleh dilupakan. Pengalaman saya pribadi sebagai dokter di Jakarta, saat pulang tentu selalu teringat adat keluarga. Walau beraktivitas di ibu kota, saya tetap ingat tradisi berkumpul keluarga. Nilai seperti ini tidak boleh pudar, dan saya bangga melihat kehangatan ini di kampung,” ujar Asep.

Ia pun menegaskan, pentingnya menjaga dan melestarikan budaya kepada para pemuda, agar tradisi tidak punah tergerus arus modernisasi.

“Momen ini menjadi sarana edukasi bagi generasi muda. Kelak ketika figur-figur peninggal seperti Mbah Gun atau Kang Juli sudah tidak ada, tradisi ini harus terus berjalan. Jangan sampai babaritan ini ditinggalkan,” ujarnya.

(Ari/ded)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *