Skip to content

Evolusi Koridor Narogong: Dari Urat Nadi Industri Sejak Era 70-an, Kini Jadi “Jalur Tengkorak”

Infobekasi.co.id – Bagi warga Bekasi dari segala penjuru, nama Jalan Raya Narogong sudah tidak asing di telinga, bahkan saban hari melintasi jalan tersebut.

Jalan raya ini dilintasi beragam kendaraan besar dan pemotor ini tercatat sebagai kawasan industri pertama di Bekasi pada dekade 1970-an hingga 1980-an.

Jalan ini membentang dari Cileungsi sampai Rawapanjang, dan sejak dulu menjadi jalur penghubung vital antar-wilayah, terutama sebagai urat nadi aktivitas perekonomian industri.

Kawasan ini tumbuh jauh lebih dulu sebelum munculnya megaproyek kawasan industri modern di Cikarang (seperti Jababeka atau Lippo Cikarang) pada awal tahun 1990-an.

Namun kini, wajah jalan legendaris itu telah berubah. Polisi menetapkan Jalan Raya Narogong menjadi jalur “black spot” alias jalur paling rawan terjadi kecelakaan lalu lintas.

Lebih dari itu, Jalan Raya Narogong juga disebut sebagai satu-satunya jalan raya di Bekasi yang paling tercemar limbah. Pencemaran berasal dari limbah air sampah atau air lindi yang jatuh dari truk pengangkut sampah.

Kini, Jalan Raya Narogong merupakan akses utama kendaraan truk sampah menuju TPA Bantargebang, yang menampung sampah milik DKI Jakarta maupun Kota Bekasi.

Truk sampah yang tak memenuhi standar kerap meneteskan air lindi sepanjang perjalanan, meninggalkan aroma tak sedap yang kerap dirasakan setiap kali melintas di jalan tersebut.

Kondisi limbah di permukaan jalan juga memperparah risiko kecelakaan. Belum lama ini, puluhan sepeda motor tergelincir lantaran jalanan menjadi licin air sampah yang mengering mencair kembali saat diguyur hujan.

Kejadian serupa terulang dua hari lalu, bahkan sebuah truk kontainer sampai belok tak terkendali lantaran jalan licin saat pengemudi mengerem.

Dari jalan kawasan industri pertama di Bekasi penghubung vital antar wilayah, kini Jalan Raya Narogong berubah menjadi jalur yang berbahaya dan tercemar limbah.

Hal ini membutuhkan perhatian serius dari pemerintah Bekasi dan pihak terkait, agar tidak terus menerus “memakan korban” yang melintas setiap harinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *