Skip to content

Menjaga Buku Fisik di Tengah Arus Digital, Saat Minat Baca Merosot

Infobekasi.co.id – Rak buku yang penuh dengan beragam judul, mulai dari karya budaya, sejarah, hingga literatur dunia, bukan sekadar tumpukan kertas yang dijilid rapi, apalagi hanya sekedar koleksi dan bacground pemanis di ruang tamu.

Lebih dari itu, beragam buku di rak adalah jejak peradaban, arsip pemikiran, dan jendela menuju dunia yang luas. Mengoleksi buku sebuah bentuk penghargaan terhadap pengetahuan, setiap judul yang disusun di rak adalah bukti bahwa kita berusaha memahami sesuatu, menyimpan gagasan agar tak hilang ditelan waktu.

Buku fisik punya keunikan tersendiri, baunya, tekstur kertasnya, catatan kecil di pinggir halamannya, semuanya menjadi bagian dari perjalanan intelektual pemiliknya.

Namun, di balik kemegahan rak buku tersebut, terselip kekhawatiran, minat baca masyarakat justru merosot di tengah gempuran digitalisasi.

Kondisi ini tercermin dari data peringkat minat baca Indonesia yang masih rendah di mata dunia. Data survei PISA (Programme for International Student Assessment) 2022, kemampuan membaca siswa Indonesia berada di peringkat ke-71 dari 81 negara.

Sementara itu, studi Most Liked Nations Index dan berbagai survei lainnya juga secara konsisten menempatkan Indonesia di posisi bawah, yakni di peringkat ke-62 hingga 70 dari 70+ negara dalam hal minat dan budaya baca.

Bahkan, data UNESCO menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya sekitar 0,001 persen, yang berarti dari 1.000 orang, hanya 1 orang yang gemar membaca.

Layar ponsel dan gawai memang memudahkan akses informasi, tetapi juga mengubah cara kita menyerap pengetahuan. Orang semakin terbiasa membaca potongan teks pendek, berita singkat, dan konten visual yang berganti detik demi detik.

Kebiasaan membaca buku yang utuh, mendalam, dan membutuhkan konsentrasi lama perlahan terkikis. Banyak orang kini lebih memilih menonton video pendek daripada membaca satu bab buku, padahal kedalaman pemahaman yang didapat dari buku tak tergantikan oleh konten instan.

Digitalisasi bukan musuh, justru membuka akses yang lebih luas. Namun, kesalahannya terletak pada cara kita memanfaatkannya.

Kita terlalu terburu-buru mengejar kecepatan hingga melupakan kedalaman. Buku fisik tetap punya tempat yang tak tergantikan. Mengajarkan kesabaran, ketelitian, dan kemampuan berpikir beruntun.

Mengoleksi buku bukan berarti menolak kemajuan zaman, melainkan menjaga agar kita tak kehilangan kemampuan untuk membaca secara utuh, berpikir secara mendalam, dan menghargai gagasan dibangun dengan waktu dan ketekunan.

Semoga rak-rak buku seperti ini bukan sekadar kenangan masa lalu, melainkan memori di balik layar yang terang, masih ada dunia pengetahuan yang lebih luas dan dalam menanti untuk dibaca.

(Dede Rosyadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *