Skip to content

Abu Vulkanik Sudah Sampai Bekasi, Orang Tua Murid Minta Kejelasan Soal PJJ

Infobekasi.co.id – Abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau yang telah merambah wilayah Bekasi menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua murid, khususnya terkait keamanan anak-anak saat mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah.

Deni Ardini, salah satu orang tua murid di Bekasi, mengatakan, persoalan yang perlu mendapat perhatian bukan semata-mata apakah sekolah harus menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau tetap melakukan pembelajaran tatap muka.

Menurutnya, yang lebih penting adalah adanya kejelasan mengenai indikator keamanan dan mekanisme pengambilan keputusan ketika kondisi lingkungan mulai terdampak abu vulkanik.

“Sebagai orang tua, tentu kami ingin anak-anak tetap bisa belajar. Tapi ketika abu vulkanik sudah sampai ke Bekasi, kami juga perlu tahu, sebenarnya indikator sekolah masih dianggap aman untuk tatap muka itu seperti apa?,” ujar Deni, pada Senin (7/9/26).

Lebih jauh, Deni memahami bahwa kondisi setiap wilayah dan sekolah dapat berbeda. Karena itu, menurutnya, Bekasi tidak harus serta-merta mengikuti kebijakan daerah lain yang menerapkan PJJ secara menyeluruh.

Namun, Ia menilai pemerintah dan pihak sekolah perlu memberikan informasi yang lebih jelas kepada orang tua mengenai kondisi lingkungan sekolah dan parameter digunakan untuk menentukan apakah pembelajaran tatap muka masih aman dilakukan.

“Kalau memang sekolah dinilai masih aman, tentu kami sebagai orang tua perlu tahu dasar atau indikatornya. Sebaliknya, kalau kondisi sudah tidak memungkinkan, jangan sampai keputusan baru diambil setelah anak-anak mulai terdampak,” papar pria asal Kayuringin tersebut.

Menurut Deni, dalam situasi seperti ini, komunikasi antara pemerintah, sekolah dan orang tua menjadi sangat penting.

Orang tua, lanjutnya, setidaknya perlu mendapatkan jawaban atas beberapa hal. Bagaimana kondisi kualitas udara di sekitar sekolah, bagaimana memantau paparan abu vulkanik, apa indikator penghentian sementara pembelajaran tatap muka, serta siapa yang memiliki kewenangan mengambil keputusan tersebut.

“Bukan soal kita ingin anak libur atau tidak. Justru kami ingin anak tetap belajar, tetapi dengan kondisi yang aman. Kalau masih aman, sampaikan secara terbuka kenapa aman. Kalau sudah berisiko, tentu harus ada langkah perlindungan,” kata Deni.

Ia berharap persoalan abu vulkanik ini tidak hanya dilihat sebagai persoalan teknis pendidikan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya perlindungan terhadap anak-anak.

“Bekasi tidak perlu panik. Tapi jangan juga menunggu sampai panik baru mengambil keputusan. Yang kami butuhkan sebagai orang tua adalah informasi yang jelas, indikator yang terukur, dan keputusan yang bisa dipahami,” tandasnya.

(ded)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *