Dari Pemilah Sampah Naik Jadi Lurah: Kisah Surya Bertarung di Pilkades Mekarwangi
Infobekasi.co.id – Surya (46), seorang pria yang menggantungkan pencahariannya dari aktivitas memilah sampah seperti kardus, botol plastik secara mengejutkan berhasil keluar sebagai pemenang dalam kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Mekarwangi, Kecamatan Cikarang Barat masa jabatan 2026-2034.
Dalam kontestasi politik Desa Mekarwangi hanya diikuti dua kandidat. Berdasarkan hasil pleno tingkat Desa, Surya memperoleh 4.107 suara. Angka ini mengungguli raihan petahana sebanyak 4.015 suara. Hanya selisih tipis sebanyak 92 suara.
Pria berusia 46 tahun ini bermukim bersama, istri, lima buah hatinya dan ibu mertuanya di Kampung Rawa Banteng Kaum. Bangunan rumah bermaterial sederhana berselimut cat hijau menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya.
Pada bagian teras depan yang berlantai semen, sebuah media sosialisasi berukuran ringkas terpampang menayangkan foto Surya bernomor urut 1 dengan tulisan “Pilihan Tepat”.
Dari kediaman inilah lahir roda usaha pemilahan barang bekas pabrik bersama tiga pekerjanya. Hasil usahanya diputar untuk kebutuhan operasional serta gaji pekerja senilai Rp100.000 per hari, dengan kisaran pendapatan bersih harian yang pas-pasan tanpa menyisakan tabungan.
“Kalau keseharian saya, ya pekerjaan saya cuma memilah sampah. Sampah pabrik kayak kardus, plastik kita pilah-pilah sehingga menjadi nilai ekonomis. Keseharian saya cuma masyarakat biasa yang setiap hari cuma bermasyarakat, bergaul, dan apa yang saya lakukan cuma ya itu bermasyarakat, enggak lebih,” tutur Surya saat ditemui, Senin (21/9/26).
Meski secara finansialnya terbatas, keberanian Surya mencalonkan diri bermula dari panggilan hati yang diperkuat oleh dorongan masyarakat. Kendati demikian, perjalanan menuju kursi pimpinan tidak sepi dari cibiran warga lainnya yang meragukan kapasitasnya lantaran hanya pemilah sampah.
“Ada aja yang menghina. Orang susah enggak punya duit ingin mencalonkan. Tapi saya enggak pernah gubris itu. Saya berjalan dengan niat hati saya, itu aja. Saya bisa berhasil di masyarakatnya karena memang saya bersosialisasi. Kalau bicara ekonomi ya memang saya apa adanya. Saya lemah,” tutunya.
Memegang mandat baru dari masyarakat, ia memiliki tekad menghadirkan tata kelola pemerintahan desa yang terbuka serta berorientasi pada kesejahteraan warga. Penanganan pengangguran dan perbaikan fasilitas publik di tengah kepungan kawasan industri menjadi agenda prioritasnya.
“Visi-misi saya ingin ngebangun Desa Mekarwangi agar lebih baik, transparan, sejahtera, gitu. Terus di program saya ya salah satunya pengangguran, infrastruktur, termasuk ekonomi,” kata Surya.
Kondisi ekonomi keluarga Surya diakui sang istri, Ratih Ratnasari (46), berada dalam taraf pas-pasan. Pendapatan dari hasil memilah sampah dari pabrik sekitar tersebut diputar kembali untuk menutup operasional harian dan membayar upah tiga orang pekerja perharinya Rp 100 ribu.
“Bener-bener sampah yang murni dibuang, kita pilihin dulu apa yang masih bisa diambil. Sampah kardus, ya plastik. Kadang dapat sejuta, dua juta. Tabungan enggak ada, tapi cukup, alhamdulillah. Kalau nilai ekonomi mah bener pas buat yang bekerja, buat makan anak sekolah,” kata Ratih.
Ratih mengaku sempat diselimuti rasa ragu akibat keterbatasan dana pencalonan. Namun, optimisme suami dan besarnya gelombang dukungan warga yang ingin perubahan membuat yakin. Ia mengenang momen mendebarkan saat proses rekapitulasi suara yang memakan waktu hingga 24 jam. Keunggulan angka terus bergerak dinamis dari selisih 40 suara, melompat ke 70 suara, hingga akhirnya mengunci kemenangan di selisih 92 suara.
“Kami sering diolok-olok, dipertanyakan bagaimana mungkin orang tanpa modal finansial bisa menang, bak semut melawan gajah. Namun sindiran itu justru membakar semangat kami,” ujarnya.
Dirinya siap menjadi pengingat agar sang suami senantiasa menjaga integritas selama menjabat. “Saya mah jadi pengingat. Doa saya mah bapak amanah, dan saya juga akan mendampingi. Takutnya namanya kepala desa kadang khilaf takutnya ya,” tutupnya.
(Ari/ded)


