Dari Bekasi untuk Indonesia: 70 Tahun Attaqwa Menguatkan Akar dan Menumbuhkan Peradaban
Infobekasi.co.id – Ribuan peserta memenuhi BSI Convention Center, Bekasi, pada Sabtu (7/11/2026), menghadiri puncak peringatan Milad ke-70 Attaqwa. Mengusung tema “Menguatkan Akar, Menumbuhkan Peradaban”, perhelatan ini bukan sekadar perayaan ulang tahun, melainkan momentum syukur sekaligus tekad baru untuk melanjutkan perjuangan pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan umat dirintis tujuh dekade lalu Pahlawan Nasional KH. Noer Alie.
Ketua Umum Yayasan Attaqwa, Dr. KH. Irfan Mas’ud, MA, dalam sambutannya mengajak seluruh keluarga besar Attaqwa menjadikan momen ini bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi memperkuat komitmen untuk masa depan. Ia menegaskan, perjalanan Attaqwa tidak dapat dilepaskan dari jasa dan perjuangan pendirinya, KH. Noer Alie, yang telah meletakkan dasar pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
Cita-cita besar KH. Noer Alie adalah membangun mujtama’ fadhil, masyarakat utama yang berlandaskan iman dan takwa, memiliki keluasan ilmu, kemuliaan akhlak, serta kesejahteraan.
“Perjalanan Attaqwa hingga mencapai usia 70 tahun merupakan perjuangan banyak generasi. Ada begitu banyak orang yang telah mencurahkan pikiran, tenaga, waktu, bahkan hartanya demi keberlangsungan lembaga ini. Untuk itu, kita patut bersyukur dan memanjatkan doa kepada Allah SWT, seraya mengirimkan doa terbaik bagi para pendiri dan pejuang Attaqwa,” ujar Kiyai Irfan.
Lebih jauh Ia menegaskan, menjaga warisan perjuangan tidak cukup hanya dengan mengenang sejarah. Nilai-nilai luhur harus diteruskan dalam langkah nyata yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Mari kita jaga cita-cita para pendiri dan meneruskannya sesuai dengan perkembangan zaman. Kita harus memastikan bahwa nilai-nilai perjuangan yang diwariskan tetap hidup, tumbuh, dan memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat,” imbau cucu Kyai Noer Alie tersebut.
Masih kata Kiyai Irfan, bahwa keberlangsungan perjuangan Attaqwa ditopang oleh tiga pilar utama yang terus diperkuat: Pendidikan, melalui Perguruan Attaqwa yang saat ini mengelola 172 lembaga pendidikan. Dakwah Sosial Keagamaan, melalui Dewan Masjid Attaqwa yang berfungsi sebagai pusat ibadah, dakwah, dan pelayanan sosial. Perwakafan, melalui pengelolaan potensi wakaf secara produktif dan berkelanjutan, termasuk pengembangan layanan kesehatan
Ketiga pilar ini, menurutnya, harus terus diperkuat agar Attaqwa tidak hanya berkembang sebagai lembaga pendidikan dan dakwah, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat nyata bagi pemberdayaan umat semakin luas.
Pada kesempatan yang sama, Kiyai Irfan juga menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh keluarga besar Attaqwa, dari pengurus pusat dan cabang, guru, pimpinan lembaga, kepala sekolah dan madrasah, pengelola unit pelayanan, alumni, wali murid, hingga para simpatisan.
“Terima kasih atas kepercayaan, kesetiaan, dan pengabdian seluruh keluarga besar Attaqwa. Banyak kerja yang mungkin tidak terlihat di ruang publik, tetapi lahir dari keikhlasan, kecintaan, serta rasa memiliki terhadap rumah besar bernama Attaqwa. Inilah kekuatan yang harus terus kita rawat bersama,” tuturnya.
Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), H. Ahmad Muzani, yang turut hadir dalam peringatan tersebut, menyoroti dimensi lain dari sosok KH. Noer Alie yang kerap menjadi inspirasi, Ia adalah ulama sekaligus pejuang kemerdekaan yang memiliki pandangan jauh ke depan tentang bagaimana agama dan negara berdampingan.
Menurut Muzani, perjuangan KH. Noer Alie tidak hanya berkaitan dengan kemerdekaan dan dakwah Islam, tetapi juga menyangkut bagaimana nilai-nilai keislaman ditempatkan dalam kehidupan bernegara sebagaimana tercermin dari kiprahnya dalam perjuangan kemerdekaan hingga keterlibatannya dalam lembaga Konstituante.
“KH. Noer Alie adalah sosok ulama dan pejuang yang sangat visioner. Beliau menunjukkan bahwa kecintaan kepada agama dan kesetiaan kepada negara dapat berjalan beriringan. Mewarisi perjuangan beliau berarti melanjutkan pengabdian dengan mengisi berbagai posisi dan bidang kehidupan di Indonesia, serta menghadirkan nilai-nilai ketakwaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata Muzani.
Ia juga mengingatkan, kehidupan spiritual masyarakat hanya dapat tumbuh dengan baik apabila kehidupan bangsa berlangsung damai. Oleh karena itu, sikap saling menghormati dan menjaga toleransi di tengah perbedaan keyakinan, suku, ras, dan agama menjadi bagian tak terpisahkan dari mewujudkan cita-cita KH. Noer Alie.
Warisan perjuangan pendiri Attaqwa, pada akhirnya, bukan sekadar kenangan sejarah. Ia adalah panggilan bagi setiap generasi penerus untuk berkontribusi nyata, melalui pendidikan, dakwah, pelayanan masyarakat, maupun pengabdian di berbagai bidang kehidupan, demi mewujudkan peradaban yang diridhai Allah, bermanfaat bagi sesama, dan membanggakan bangsa Indonesia.
Hadir dalam acara ini para ulama, unsur pemerintah, guru, pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), pengelola musala, alumni, serta keluarga besar Attaqwa. Gedung yang berkapasitas sekitar 4.000 orang tampak penuh sesak, mencerminkan kebersamaan yang kuat di antara seluruh elemen lembaga ini. Semarak milad juga terasa melalui beragam pertunjukan panggung yang disajikan siswa dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Raudhatul Athfal (RA) hingga sekolah menengah yang menampilkan musik, tarian, dan film dokumenter perjalanan panjang Attaqwa dari masa ke masa.
Sebagai bagian dari puncak peringatan ini, delapan tokoh yang telah mendedikasikan dirinya untuk kemajuan pendidikan dan dakwah di lingkungan Attaqwa menerima Anugerah Pengabdian Emas. Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas pengabdian panjang mereka yang telah mencurahkan tenaga, pikiran, dan komitmen demi keberlangsungan perjuangan Attaqwa.
#Infobekasi #Bekasi


